Star Trails (Chapter 35)

Waktu SMP, Pan Kai pernah sangat kecanduan dengan game motor di tempat dingdong. Sayangnya, game tidak bisa menandingi keseruan di dunia nyata. Saat mendengar ada kegiatan melacak lokasi yang begitu seru, dia langsung meluncur datang. Jiang Mu sudah bersiap sedia menunggu di bawah. Setelah menerima helm yang diberikan Pan Kai dan naik ke motor, dia berkata: “Kamu jalan dulu, nanti aku beritahu arahnya.”

Pan Kai menjawab dengan ekspresi penuh semangat: “Tidak masalah, serahkan padaku.”

Jiang Mu melihat gayanya, dalam hati berkata, pasti beres.

Sayangnya, begitu motor berbelok ke jalan raya, semangat Jiang Mu langsung layu. Dia pernah merasakan kecepatan teknik mengemudi Jin Chao. Tiba-tiba duduk di motor Pan Kai, melihat skuter-skuter listrik melintas di samping mereka, dia tidak bisa berkata-kata: “Motormu ini kehabisan bensin ya?”

Pan Kai dengan malu berkata: “Aku jarang naik motor, biarkan aku beradaptasi dulu.”

Jiang Mu melihat titik merah yang semakin jauh, dia sangat cemas. Namun, kemampuan Pan Kai tidak memadai. Baru setelah keluar dari pusat kota, dia berani sedikit mempercepat lajunya. Untungnya saat sampai di pinggiran timur, titik merah itu berhenti, tidak terus bergerak.

Jiang Mu memperbesar peta dan menunjukkannya pada Pan Kai, bertanya itu tempat apa. Pan Kai berkata dengan aneh: “Di sana tidak ada apa-apa, hanya tanah kosong. Pergi ke sana untuk apa?”

Melihat mereka semakin dekat dengan titik merah, Jiang Mu mengingatkannya: “Pelan-pelan sedikit, jangan sampai ketahuan.”

Pan Kai menjawab dengan sangat percaya diri: “Tenang saja.”

Orang dan kendaraan semakin sedikit. Mengikuti navigasi, mereka memasuki sebuah jalan raya baru yang sepi. Jalanan lancar tanpa hambatan. Pan Kai tiba-tiba menjadi bersemangat seperti kuda liar yang lepas kendali, dengan ritme yang seolah tidak bisa berhenti. Angin dingin berhembus kencang, meniupkan nuansa keren ‘pemuda angin kencang’ yang membuatnya terbuai. Akibatnya, saat di depan di pinggir jalan raya ada sebuah mobil yang menyalakan lampu, dia bahkan berteriak: “Jiang Jiang, lihat, di sana ada GT-R!”

“…”

Di tengah teriakannya, Jiang Mu melihat mobil hitam sederhana di bawah kegelapan malam. Jalan aspal sepertinya baru saja selesai dibuat. Di kedua sisi jalan tidak ada lampu jalan maupun tanaman. Mobil itu menyalakan lampu besarnya, berhenti begitu saja di pinggir jalan. Sekilas Jiang Mu melihat Jin Chao bersandar di pintu mobil, sebatang rokok terselip di bibirnya. Percikan api rokoknya berkelip membelah malam yang gelap gulita. Dengan ekspresi muram dan tidak jelas, Jin Chao memiringkan kepala menatap arah kedatangan mereka. Lalu si bodoh Pan Kai itu, tepat di depan mata Jin Chao, melaju melewatinya.

Me-la-ju me-le-wa-ti-nya!!!

Hati Jiang Mu sangat terkejut. Seluruh tubuhnya meringkuk di belakang Pan Kai, menutupi wajah dengan tangannya, dengan kesal berkata: “Aku kan sudah bilang pelan-pelan jangan sampai ketahuan?”

Pan Kai masih dengan waspada mencari ke mana-mana: “Hah? Kita ketahuan ya?”

Di belakang mereka terdengar dua kali suara klakson mobil. Pan Kai berhenti dan menoleh ke belakang, lalu melihat lagi lokasi di ponsel yang sudah tumpang tindih. Tiba-tiba dia gemetar dan berkata kaget: “Sial, kita ketahuan.”

“…Untung bukan pergi berperang, kalau tidak sudah mati.”

Jiang Mu berkata dengan jengkel: “Ayo kembali.”

Seharusnya hanya urusan putar balik, tapi Pan Kai sepertinya tidak terlalu bisa melakukannya. Dia terpaksa memutar di jalanan yang kosong dan sepi itu dengan putaran yang sangat besar baru kembali menuju GT-R.

Baru setelah sampai di dekatnya, Pan Kai mengenali Jin Chao, dengan antusias berteriak: “Kak Tou Qi, ternyata kau ya! Wah, kebetulan sekali.”

Jiang Mu saat ini hanya ingin mengulurkan tangannya mencekik Pan Kai lebih dulu sebagai tanda hormat. Jin Chao mengerutkan kening, melihat Pan Kai semakin dekat tapi sama sekali tidak ada tanda-tanda melambat, mengingatkan: “Rem.”

Pan Kai seolah baru sadar, langsung mengerem mendadak dengan kuat, tapi tidak terlalu bisa berhenti. Jin Chao mengangkat kaki kanannya dan menahannya di roda depan motor Pan Kai untuk membantunya. Motor itu berhenti hanya satu meter sebelum menabrak GT-R.

Karena inersia, tubuh Jiang Mu terlempar ke arah Pan Kai. Secara refleks dia mengangkat kedua tangannya dan menampar punggung Pan Kai. Pan Kai yang tertampar terdorong ke depan, membungkuk sembilan puluh derajat dengan sempurna pada Jin Chao yang berdiri di depan mobil.

Jin Chao menurunkan kakinya dan berkata dengan datar: “Tidak usah sujud, tidak ada uang.”

Pan Kai buru-buru berdiri tegak, dengan cengengesan berkata: “Aku punya, aku punya. Kak Tou Qi mau makan apa, aku traktir.”

Jin Chao tidak menghiraukannya, menatap Jiang Mu. Jiang Mu jadi lebih canggung lagi, bahkan tidak tahu harus memasang ekspresi apa. Dengan kaku dia berkata: “Kalau aku bilang padamu, aku dan Pan Kai keluar mencari kedai sate, apa kamu percaya?”

Jin Chao dengan santai mengeluarkan sebuah ponsel bekas dari saku celananya, memutarnya di telapak tangannya. Pandangan Jiang Mu menjadi gelap. Dia mendengar Jin Chao berkata padanya: “Masih belum turun?”

Jiang Mu dengan patuh turun dari motor Pan Kai, melepas helm dan mengembalikannya pada Pan Kai. Dengan kepala menunduk dia berjalan ke depan Jin Chao, dengan ekspresi bersalah. Jin Chao mengangkat dagunya sedikit, memberi isyarat padanya: “Naik mobil.”

Jiang Mu berjalan ke kursi penumpang depan dan membuka pintu. Dia melihat Jin Chao berdiri di luar berbicara beberapa patah kata dengan Pan Kai. Pan Kai mengangguk berulang kali, lalu membungkuk dan melambaikan tangan pada Jiang Mu, kemudian mengendarai motor kecilnya pergi dengan terhuyung-huyung.

Jin Chao melihatnya yang berjalan oleng ke kiri dan kanan, menggelengkan kepala, lalu membuka pintu dan masuk ke mobil. Dia menoleh, matanya yang gelap gulita menatap Jiang Mu, membawa aura menekan yang menyebalkan. Jiang Mu diam-diam memalingkan muka, lalu mendengar Jin Chao membuka mulut: “Setengah jam sudah bisa sampai, malah menungguku lebih dari satu jam. Kamu benar-benar berani naik motornya ya.”

Jiang Mu dengan rasa bersalah mengalihkan pandangannya ke luar jendela: “Kamu tahu itu aku?”

“Tidak tahu.”

Jin Chao menyalakan kembali mobilnya: “Makanya menunggu di sini untuk lihat siapa yang bisa ditunggu.”

Setelah berkata demikian, dia menatapnya dengan tajam: “Hebat ya sekarang?”

Lalu dia melemparkan ponsel bekas itu ke pangkuan Jiang Mu. Jiang Mu mengertakkan gigi tidak bisa berkata apa-apa, wajahnya hanya terasa panas membara.

Malam semakin pekat. Mobil melaju di jalan raya yang gelap gulita. Meskipun Jin Chao menyalakan lampu besar, bagian depan tetap gelap gulita. Masa depan yang tidak bisa diterangi, ujung yang tidak terlihat, jalan di depan yang terus ditelan kegelapan. Inilah yang dirasakan Jiang Mu saat ini, perasaan paling nyata terhadap Jin Chao.

Tekanan udara di dalam mobil sangat rendah. Dada Jiang Mu seolah tertindih batu besar, tidak bisa bernapas.

Malam yang sunyi, jalanan yang kosong, lingkungan di mana hanya ada dia dan Jin Chao, membuatnya tiba-tiba sedikit nekat. Dia menoleh padanya dan berkata: “Aku dengar apa yang dikatakan San Lai padamu. Kamu mau melakukan hal yang mempertaruhkan nyawa. Mungkin kamu pikir ini konyol, aku baru datang ke Tonggang, begitu mendengar hal ini langsung tidak bisa tenang. Apa sangat sulit dimengerti? Tidak bisa mengerti kenapa aku begitu mengkhawatirkanmu? Mungkin kamu hanya menganggapku sebagai teman bermain masa kecil, mungkin kamu pikir aku hanya datang ke sini untuk sekolah setahun, setelah pergi tidak ada hubungan lagi denganmu, kan?”

Suara Jiang Mu tanpa sadar sedikit bergetar: “Tentu saja, bagaimana mungkin kamu mengerti. Kalau kamu mengerti, kamu tidak akan selama bertahun-tahun ini tidak mau kembali menemuiku sekali pun. Aku menunggu sampai liburan musim panas tahun kedua, tahun ketiga, tahun keempat, kamu tetap tidak kembali. Surat yang kutulis untukmu, tidak pernah kamu balas, satu pun tidak pernah dibalas. Dari lulus SD ke SMP, menunggu sampai lulus SMP ke SMA, aku tahu kamu tidak akan kembali. Setiap beberapa waktu aku masih akan kembali ke tempat kita tinggal dulu, menuliskan nomorku di selebaran iklan di gedung, hanya karena takut kalau kamu tiba-tiba kembali dan tidak bisa menemukanku."

"Belakangan aku bahkan berpikir apa kamu sudah melupakanku. Aku sangat benci les tambahan dan PR yang tidak ada habisnya, tapi aku tidak berani menyerah. Aku takut suatu hari nanti kamu kembali dan melihat nilaiku hancur berantakan, lalu kecewa padaku…”

Tatapan Jin Chao yang tak tergoyahkan akhirnya sedikit bergetar.

Jiang Mu mengendus hidungnya, dengan emosional berkata: “Jadi aku keluar hari ini hanya untuk tahu keadaanmu. Kamu boleh anggap aku terlalu percaya diri, boleh anggap aku ikut campur. Yang harus kukatakan sudah kukatakan semua. Antar aku pulang saja. Lain kali aku tidak akan melakukan hal-hal bodoh seperti ini lagi.”

Baru saja selesai bicara, Jin Chao tiba-tiba berkata padanya: “Pakai sabuk pengaman.”

Barulah Jiang Mu sadar bahwa tanpa disadarinya mobil sudah melaju kencang. Tadi saat di jalan raya, Jiang Mu masih berpikir mobil ini terlihat biasa saja. Tapi saat ini suara mesinnya tiba-tiba meraung. Dia buru-buru menarik sabuk pengaman, masih tidak tahu apa yang terjadi. Jin Chao menginjak pedal gas, dorongan kuat ke belakang membuat jantung Jiang Mu seketika berdebar kencang.

Dia memasang sabuk pengamannya dan melihat Jin Chao menekan kelopak matanya, alisnya mengerut erat. Dari belakang juga terdengar raungan mobil. Barulah saat ini Jiang Mu menoleh ke belakang. Ada dua mobil yang menempel ketat di belakang mobil mereka. Jin Chao melakukan drift, langsung dari lereng tandus naik ke jalan lain. Jiang Mu kaget dan berkata: “Ada apa?”

Wajah Jin Chao tegang, kedua matanya menatap tajam ke depan, hanya berpesan padanya: “Pegang erat-erat.”

Begitu selesai bicara, tanpa peringatan dia membanting setir. Mobil dari jalan lurus tiba-tiba berbelok masuk ke sebuah area konstruksi yang terbengkalai. Salah satu mobil di belakang tidak sempat bereaksi dan melaju lurus ke depan, mobil yang satu lagi ikut berbelok.

Sudut mata Jin Chao memancarkan kekejaman yang liar. Dia membawa Jiang Mu melintasi area konstruksi yang naik turun. Kedua tangan Jiang Mu memegang erat pegangan tangan mobil, matanya menatap lekat mobil di belakang, tegang hingga tidak berani berkedip.

Mereka ngebut seperti ini sekitar sepuluh menit. Melihat mobil akan sampai di dekat sebuah kompleks perumahan, di sana masih ada beberapa warung makan malam. Jin Chao membanting setir, melakukan putaran di tempat, nyaris menyerempet sebatang pohon besar. Jantung Jiang Mu saat itu hampir melompat keluar dari tenggorokannya.

Jin Chao mengeluarkan ponselnya dari saku dan melemparkannya pada Jiang Mu, berkata: “Tahu apa itu navigator?”

“Tahu—tapi juga tidak tahu.”

“Selamat, mulai sekarang kamu jadi navigatorku. Kata sandi pembukanya adalah tanggal ulang tahun kita. Cari aplikasi angka, buka grup yang di-pin dan cari informasi lokasi, beritahu aku harus lewat mana.”

Tepat pada saat itu, dari persimpangan yang sama muncul lagi dua mobil. Satu mobil langsung memotong di depan mereka, sengaja menghalangi jalur Jin Chao, membuka jalan untuk mobil lainnya. Arah mobil Jin Chao mulai bergoyang ke kiri dan kanan, mobil di depan juga ikut berbelok. Meskipun Jiang Mu diikat sabuk pengaman, tubuhnya tetap terlempar ke sana kemari, organ dalamnya terasa bergetar. Ponsel sama sekali tidak bisa dipegang dengan stabil. Dia melihat mobil di depan menurunkan kaca jendela, mengacungkan jari tengah pada Jin Chao. Di belakang masih ada mobil yang mengejar ketat. Yang lebih sial lagi, mobil di depan sengaja mengerem mendadak memaksa Jin Chao berhenti. Beberapa kali hampir menabrak dari belakang hingga Jiang Mu berkeringat dingin. Kedua tangannya gemetar tak henti-hentinya, kata sandi salah dimasukkan dua kali. Sama sekali tidak tahu apa yang terjadi, otaknya kosong.

Jin Chao mengulurkan satu tangan dan menggenggam tangannya erat-erat: “Jangan takut, lakukan seperti yang kukatakan, bisa?”

Telapak tangan Jin Chao yang lebar tiba-tiba memberinya kekuatan, membuat hati Jiang Mu yang panik sedikit lebih tenang. Dia meremas tangannya sebentar lalu dengan cepat menariknya kembali. Jiang Mu berusaha menstabilkan layar ponsel, memasukkan angka-angka yang familiar. Kunci layar ponsel terbuka. Setelah dibuka, dia menemukan aplikasi angka dan membukanya. Benar saja, di baris pertama ada grup sementara, muncul sebuah pesan yang belum dibaca. Grup ini total ada dua puluh orang lebih, semua dalam mode senyap, hanya ada satu informasi lokasi. Jiang Mu dengan cepat membukanya, tujuan mereka berjarak sekitar belasan kilometer.

Dengan cemas dia berkata pada Jin Chao: “Tidak ada nama tempat yang pasti, peta hanya menunjukkan sebidang tanah kosong.”

“Tidak masalah, beritahu aku arah mata anginnya.”

“Ke arah barat daya.”

Baru saja Jiang Mu selesai bicara, Jin Chao tanpa diduga berbelok tajam, ponsel di tangannya hampir terlempar. Jiang Mu memegang erat ponselnya dengan kedua tangan, matanya menatap layar dan berkata: “Tujuan sekarang di arah jam tiga, tunggu.”

Jiang Mu dengan cepat memperbesar peta, matanya menyapu: “Empat ratus meter lagi ada jalan, belok kanan.”

Begitu selesai bicara, Jin Chao sudah berbelok masuk ke jalan yang dikatakannya. Mobil di belakang masih menempel ketat. Jin Chao berkata pada Jiang Mu: “Jarak kilometer, sudut tikungan.”

“15 kilometer, arah timur laut, tikungan 40 derajat, 700 meter lagi belok kanan.”

“Pelajaran geografimu tidak sia-sia.”

“8 kilometer, sudut barat daya, tikungan 45 derajat, 500 meter lagi belok kiri, langsung diikuti tikungan 50 derajat belok kanan.”

Jiang Mu perlahan menjadi tenang, tidak lagi mempedulikan situasi di luar mobil. Dua jarinya terus memperbesar dan memperkecil peta, seluruh raut wajahnya tegang, tidak berani lengah sedetik pun: “Perhatikan, sekitar 800 meter lagi ada… ada sesuatu entah apa, di sampingnya total ada tiga jalan bisa dilewati, jaraknya hampir sama, kondisi jalannya tidak terlihat.”

“Pilih satu.”

Jiang Mu mengangkat kepala melihat mobil di belakang. Mobil itu ternyata masih mengikuti mereka, dan semakin dekat. Tangan dan kakinya kesemutan, tetapi kesadarannya tiba-tiba menjadi jernih. Peta di otaknya seketika menjadi gambar tiga dimensi yang nyata. Sebuah ide melintas di benaknya, dia berkata: “Kelilingi benda itu satu putaran, saat sampai di sisi timur, langsung masuk ke tikungan jalan kedua dengan sudut sembilan puluh derajat.”

“Mengikuti petunjukmu.”

Jin Chao menginjak pedal gas hingga maksimal. Jiang Mu juga menunggu momen paling krusial ini, berharap bisa melepaskan diri dari mobil di belakang.

Benar saja, di depan muncul sebuah bangunan terbengkalai, di peta tidak ditampilkan. Jalan ini dikelilingi tembok tinggi, sepanjang tahun tidak terkena sinar matahari, tanahnya memantulkan cahaya. Jiang Mu menegakkan tubuh dan berteriak: “Es di depan!”

Wajah Jin Chao tidak berubah, langsung melajukan mobilnya melewatinya. Mobil di belakang melihat Jin Chao tidak ada niat berhenti, ikut mengejarnya satu putaran. Namun tiba-tiba Jin Chao membelokkan kemudi dengan tajam ke tikungan, melepaskan rem tangan, dan berakselerasi dengan satu gerakan halus dan terlatih. Mobil melayang masuk ke tikungan jalan kedua. Jiang Mu bahkan tidak sadar bagaimana mereka melewatinya, hanya merasa organ dalamnya akan terlempar keluar dari tubuh. Baru saja masuk tikungan, Jiang Mu buru-buru melihat mobil di belakang. Tapi tepat pada saat itu, dari kaca spion Jiang Mu melihat mobil di belakang tidak bisa mengendalikan lajunya di atas es dan langsung menabrak bangunan.

Seketika, jantung Jiang Mu berhenti berdetak, dia berteriak kaget: “Mereka jatuh! Apa yang harus kita lakukan?”

Jin Chao tidak berhenti, bertanya: “Jarak?”

Jiang Mu masih mengulangi: “Orang itu jatuh.”

“Beritahu aku jaraknya.”

Tangan dan kaki Jiang Mu dingin, kedua tangannya yang memegang ponsel gemetar. Dia kembali mendekatkan ponsel ke depan matanya dan memberitahu Jin Chao: “Keluar dari tikungan, arah jam sebelas, 800 meter sampai tujuan.”

“Sekarang dengarkan aku. Keluar dari jalan ini, ikuti ritmeku, saat hitungan mundur sepuluh, kamu pegang setir.”

Seluruh jiwa Jiang Mu hampir keluar dari raganya, dengan gemetar bertanya: “Bagaimana pegangnya?”

“Pegang pakai tangan. Sepuluh, sembilan—”

Mobil melesat keluar dari mulut jalan. Jiang Mu terkejut melihat dari segala arah sekitar tiga mobil melaju kencang ke arah yang sama. Dia berteriak kaget: “Jin Chao, lihat!”

“Tujuh, enam—”

Jin Chao, dengan mata tertuju ke depan, tiba-tiba melaju ke medan berpasir. Jiang Mu merasakannya berbelok liar saat ban-bannya mengepulkan awan debu, langsung memenuhi udara. Jarak pandang yang buruk dan badai pasir membuat laju kendaraan hampir mustahil. Dua mobil yang mendekat melambat, tetapi satu mobil tetap melaju di samping mereka.

“Tiga, dua—”

Jin Chao tiba-tiba membuka pintu pengemudi. Bersamaan dengan seruan: “Satu.”

Seluruh tubuh Jiang Mu melompat ke arah kursi pengemudi dan memegang setir. Sudut matanya melihat tangan Jin Chao memegang pintu, tubuhnya sudah condong ke luar mobil. Di sebelah kiri adalah reruntuhan tembok bata. Di tembok bata tergantung sebuah kantong. Saat itu, semua di sekitarnya menjadi gerak lambat. Gila! Ini adalah reaksi pertama Jiang Mu. Dia merasa adegan di depannya begitu tidak nyata seolah masuk ke dalam adegan film yang mustahil.

Namun dalam waktu kurang dari satu detik, Jin Chao berhasil mengambil kantong itu. Tepat saat dia bersiap menutup pintu, ban mobil melindas tanah yang tidak rata, badan mobil berguncang hebat. Jiang Mu mati-matian menstabilkan arah. Mobil menyerempet tembok bata. Jin Chao mengambil alih kemudi, melemparkan kantong itu pada Jiang Mu, sekalian mengelus kepalanya, sudut bibirnya terangkat: “Kerja bagus, gadis baik.”

Tenggorokan Jiang Mu kering, rasa takutnya sama sekali tidak berkurang. Dia menoleh dan melihat mobil yang melaju sejajar dengan mereka tiba-tiba berhenti, menurunkan kaca jendela. Seorang pria dengan potongan rambut cepak bundar di dalamnya memberi isyarat ‘enam’ padanya, lalu tidak lagi mengejar.

Lebih jauh di depan, di ujung tanah berpasir, terparkir deretan mobil, semuanya menyalakan lampu besar menerangi malam hingga terang benderang. Jiang Mu tiba-tiba menatap Jin Chao. Ekspresi Jin Chao seperti biasa. Dia memperlambat laju mobilnya dan berkata pada Jiang Mu: “Tetap di sampingku, jangan bicara sembarangan. Turun.”

Sambil berkata, dia menginjak pedal gas, melajukan mobil ke sana dan berhenti. Jiang Mu ikut turun bersama Jin Chao. Pandangan semua orang tertuju pada kantong yang dipeluk Jiang Mu. Jiang Mu tanpa sadar memeluk erat benda di tangannya, dengan cepat berjalan ke samping Jin Chao, menatap orang-orang itu dengan waspada.

Jin Chao mengambil benda di tangan Jiang Mu dan langsung melemparkannya pada seorang pria berbandana yang bersandar di sebuah Ferrari.

Pria itu mengulurkan tangan menangkap kantong itu, memberikannya pada pemuda di sampingnya, lalu berkata: “Bukannya bilang hari ini tidak datang?”

Jin Chao dengan santai mengangkat bahu: “Memang tidak niat datang. Beberapa anak buah Wan Shengbang melihat mobilku di jalan, mengejar seperti anjing gila, memaksaku masuk ke jalur ini.”

Pria berbandana itu berkata: “Kalian seharusnya tidak membawa urusan kalian ke aliansi.”

Sikap Jin Chao cuek: “Aku hanya ingin cari uang, kau katakan saja padanya.”

Mata pria berbandana itu bolak-balik mengamati Jiang Mu, lalu menatap Jin Chao dan berkata: “Ini tidak sesuai aturan, You Jiu. Kau tahu di sini kalau bawa orang luar akibatnya apa.”

Jiang Mu dengan gugup bergeser satu inci ke belakang Jin Chao. Tak disangka, Jin Chao langsung merangkulnya dan tertawa: “Bukan orang luar, ini pacarku. Belakangan ini dia selalu curiga aku punya orang lain di luar, bilang kalau malam aku selalu menyelinap keluar. Kalau aku keluar diam-diam lagi, dia mau minta putus.”

Sekelompok orang di sekitarnya tertawa terbahak-bahak. Jiang Mu tiba-tiba mengangkat pandangannya menatap Jin Chao, tetapi sadar bahwa Jin Chao saat ini sudah memasang wajah lain. Kontur wajahnya yang mulus tersenyum acuh tak acuh, matanya memancarkan aura genit. Saat Jiang Mu menatapnya, Jin Chao menunduk dan berkata padanya: “Masih marah?”

Suara itu mengandung nada membujuk, lembut dan rendah, seperti seorang ahli yang terbiasa menghadapi wanita. Jiang Mu yang berada dalam pelukannya, jantungnya berdebar lebih kencang dari sebelumnya. Entah berapa persen yang asli dan berapa persen yang palsu, membuatnya sesaat menjadi linglung.

Di samping ada yang berkata: “Tidak kusangka kau, You Jiu, bisa begitu tergila-gila pada seorang gadis kecil. Satu kata ‘putus’ saja sudah bisa mengendalikanmu.”

Jin Chao mengangkat pandangannya menatap orang itu, dengan nada sedikit tidak serius: “Bagaimana aku bisa putus jika aku hampir tidak tahan melihatnya terluka?”

Di sampingnya kembali terdengar gelak tawa. Detak jantung Jiang Mu mengaburkan pendengarannya. Jin Chao tanpa kentara meremas bahunya sedikit. Jiang Mu menarik kembali pandangannya dan menunduk. Tubuhnya masih sangat kaku, hanya karena tangan Jin Chao memegang bahunya barulah tubuhnya tidak gemetar hebat.

Pria berbandana itu mengambil sebuah amplop dari mobil dan melemparkannya pada Jin Chao: “Bujuklah pacar kecilmu ini baik-baik.”

Jin Chao mengangkat tangan menangkap amplop itu, langsung memberikannya pada Jiang Mu. Jiang Mu memegang amplop itu, dadanya terasa panas karena gugup.

Di seberang, seorang pria memberikan rokok pada Jin Chao. Jin Chao melepaskan Jiang Mu dan menunduk menyalakan rokok. Di sampingnya sesekali ada orang yang mengamati Jiang Mu, ada wanita memakai sepatu bot kulit, ada juga gadis seksi yang merokok, semuanya terlihat sangat dewasa dan memesona. Dibandingkan dengan mereka, penampilannya yang polos terlihat sangat tidak cocok. Berdiri di tempat, perasaan mati gaya itu kembali menyergapnya.

Setelah menyalakan rokok, Jin Chao melemparkan korek api pada pria di sampingnya, lalu menggandeng tangan Jiang Mu, menggenggam erat tangannya yang lembut dan dingin. Jiang Mu seolah akhirnya menemukan penyelamat, tubuhnya tanpa sadar bergeser sedikit mendekati Jin Chao, dengan cemas dan was-was bertahan di samping Jin Chao. Dia memperhatikan penampilan Jin Chao yang begitu lihai bergaul, memancarkan aura preman dan kebebasan, lelucon apa pun, bahkan yang sedikit vulgar, bisa ditanggapinya. Benar-benar berbeda seratus delapan puluh derajat dari penampilannya yang serius dan dingin di bengkel.

Sejak baru belajar berjalan, dia sudah digandeng Jin Chao hingga besar. Tapi setelah bertahun-tahun, telapak tangannya menjadi lebih lebar dan kuat. Kapalan tipisnya mengelus punggung tangannya, di tempat yang campur aduk ini, diam-diam menenangkan emosinya.

---


Back to the catalog: Star Trails
Lebih baru Lebih lama

نموذج الاتصال