Karakter hati ganda (1)
Setelah mimpi itu, paviliun terkunci rapat; setelah terbangun dari pengaruh anggur, tirai-tirai terkulai rendah. Kesedihan musim semi tahun lalu kembali lagi; bunga-bunga berguguran, sesosok figur berdiri sendirian; hujan gerimis, burung layang-layang terbang berpasangan.
Aku ingat saat pertama kali bertemu Xiao Ping, dia mengenakan jubah berlapis ganda yang disulam dengan karakter untuk "hati." Dia berbicara tentang kerinduan melalui senar pipa; bulan yang terang ada di sana saat itu, bersinar di atas awan warna-warni yang kembali.
Lima
Suara jangkrik musim panas kian jarang terdengar. Beberapa kali hujan dingin turun, dan nuansa musim gugur mulai terasa. Di luar jendela, sebatang pohon kembang sepatu mekar dengan indahnya. Ren Susu bersandar pada barre, sesaat mengira bunga itu adalah mawar. Tadi pagi, dia menyembunyikan setangkai mawar di loker gantinya. Aroma manis yang pekat seakan masih tertinggal di ujung jarinya. Saat mendongak, dia melihat tatapan Guru Zhou di cermin menyapu ke arahnya, dan dia buru-buru melakukan beberapa gerakan rond de jambe yang indah. Gerakannya begitu lancar dan anggun hingga membuat guru itu tersenyum.
Ruang ganti adalah tempat umum bagi para gadis, jadi tak terhindarkan dari suara celoteh mereka. Mata Xiaofan paling tajam, suaranya pun lantang, "Susu! Dari mana asalnya ini?" Sambil tertawa, dia merebut mawar itu, "Wangi sekali!"
Mu Lan menjulurkan kepalanya sambil tersenyum lebar, "Masih perlu ditanya? Tentu saja dari Zhuang Chengzhi kita."
Xiaofan melambai-lambaikan bunga itu dengan wajah jahil, "Aku mau lapor guru, Zhuang Chengzhi diam-diam memetik mawar di taman bunga untuk diberikan pada pujaan hatinya."
Mu Lan tersenyum sambil merangkul bahunya, "Susu, bagaimana kalau kuberikan peran utama padamu? Kau dan Zhuang Chengzhi menari Liang Zhu (Sampek Engtay), kujamin chemistry-nya sepuluh ribu kali lebih bagus daripada aku dengannya."
Ren Susu tersenyum dan berkata, "Kalau kau bicara lagi, aku akan umumkan rahasiamu, lho!"
Xiaofan buru-buru bertanya, "Rahasia apa?"
Susu tak menjawab, tapi Mu Lan mengulurkan tangan mencubit pipinya, "Nakal! Cuma kau yang paling nakal!"
Sekelompok orang itu keluar untuk makan malam, Mu Lan dan Susu tertinggal di belakang. Mu Lan sudah berganti pakaian santai ala Barat, melihat Susu mengenakan gaun putih mutiara itu, dia tak tahan berkomentar, "Kenapa kau selalu pakai baju-baju ini?" Dia menggandeng tangan Susu, "Ikut aku makan, yuk."
Susu menggeleng, "Terima kasih, terakhir kali menemanimu, aku jadi panik setengah mati."
Mu Lan berkata, "Kau terlalu kaku, orang-orang itu cuma bercanda, tidak ada maksud lain. Lagipula—di antara kelompok itu, pilih sembarang juga bagus. Masa kau mau menari seumur hidup?"
Susu tersenyum, "Tahu, tahu, tahu kalau kau mau menikah dengan tuan muda keluarga terpandang, masa depan cerah jadi nyonya muda yang tak perlu pusing soal makan pakai. Nasibku ya cuma menari seumur hidup."
Mu Lan mendengus tertawa, "Yang benar itu kau mau menari seumur hidup dengan Zhuang Chengzhi."
Susu berpura-pura hendak memukul. Keduanya berjalan keluar dan melihat sebuah Chevrolet hitam mengkilap terparkir di seberang jalan. Seseorang di dalam mobil melambaikan tangan dari kejauhan pada Mu Lan. Mata Mu Lan berbinar, dia menyapa Susu, lalu buru-buru menghampiri mobil itu.
Susu memandangi mobil itu melaju pergi. Dia berdiri sebentar di tepi jalan, lalu Zhuang Chengzhi datang dan bertanya, "Sudah tunggu lama?"
Dia mendongak menatapnya. Wajah yang putih bersih dan cerah itu seperti matahari musim gugur, bersinar langsung ke dalam hati. Dia tersenyum dan berkata, "Aku juga baru turun."
Keduanya pergi makan wonton bersama.
Aroma rumput laut yang samar, kulit pangsit seputih salju dan transparan. Susu sedikit berkeringat, dia mengeluarkan saputangan untuk menyekanya. Terdengar Chengzhi bertanya padanya, "Mu Lan kenapa belakangan ini? Selalu tidak fokus." Dia dan Mu Lan adalah pasangan menari, tentu dia bisa melihat kalau pikiran Mu Lan tidak ada pada latihan.
Susu berkata, "Dia punya pacar baru."
Chengzhi bertanya, "Yang baru saja naik mobil itu?"
Susu mengangguk. Chengzhi berkata, "Anak orang kaya, ya?"
Bukan hanya kaya—kabarnya latar belakang keluarganya sangat kuat. Pernah sekali Susu tak kuasa menolak Mu Lan dan diseret ikut makan. Itu pertama kalinya dia makan makanan Barat. Lampu gantung kristal yang berkilauan, lantai yang berkilauan, pisau dan garpu yang berkilauan, dunia itu seakan penuh cahaya menyilaukan. Orang-orang di sana juga modis dan cantik. Mu Lan bersikap luwes, siapa pun yang mengajaknya minum, dia tidak takut. Di meja itu ada seorang tuan muda bernama He Zhongze yang paling suka mengganggu Mu Lan, memaksanya minum sampai habis. Dia bilang, "Minum ya minum!" lalu menenggak habis gelasnya. Dua anting daun gioknya bergoyang seperti ayunan, memancarkan hijau kelam di bawah lampu. Orang-orang bersorak memuji, He Zhongze berkata, "Xiao Xu, pacarmu ini asyik, setia kawan!" Mu Lan hanya tersenyum jenaka.
Kemudian He Zhongze bicara padanya, "Nona Fang sudah minum, Nona Ren juga harus menunjukkan rasa hormat, kan?" Mana pernah dia melihat situasi seperti ini, wajahnya langsung merah. Akhirnya pacar Mu Lan, Xu Changning, yang menyelamatkannya, "Nona Ren benar-benar tidak bisa minum, tidak seperti kalian yang sudah biasa urakan. Jangan menakuti orang."
Setelah makan, Xu Changning memanggil mobil untuk mengantar dia dan Mu Lan pulang. Mu Lan masih bercanda dengannya, "Susu, Tuan He itu sepertinya naksir kamu, lho." Ternyata benar tebakannya, besoknya He Zhongze mengajaknya makan. Dia menolak dengan sopan tapi dingin. Mu Lan menyayangkannya setengah mati, "Nona, itu putra sulung He Yuancheng, lho. Kau bahkan tak mau bersikap manis sedikit pun padanya?" Dia balik bertanya, "He Yuancheng siapa?" Mu Lan memasang wajah tak percaya antara mau menangis dan tertawa, cukup lama baru berkata, "Kau ini benar-benar—jangan bilang kau bahkan tak tahu siapa Murong Feng?"
Itu membuatnya tertawa, baru teringat kalau He Yuancheng adalah tokoh politik ternama. Tuan muda He itu sampai sekarang masih sesekali mengajaknya keluar, dia hanya menghindar saja.
Mu Lan terlambat datang, dimarahi guru dan dihukum latihan tambahan. Orang lain sudah pulang, Susu diam-diam kembali sendirian untuk melihatnya. Dia sedang latihan menendang kaki, begitu melihat Susu, dia berhenti dan bertanya, "Guru Zhou sudah pulang?"
"Sudah."
Mu Lan menjulurkan lidah, wajahnya penuh keringat berkilauan. Dia mengambil handuk untuk menyeka keringat, bersandar malas di barre dan bertanya, "Susu, besok Minggu, ikut aku main, yuk."
Susu menggeleng, "Terima kasih, teman-teman Tuan Muda Xu-mu itu, aku tak sanggup meladeni."
Mu Lan berkata, "Besok tak ada orang lain, cuma aku dan dia."
Susu tersenyum, "Lalu aku buat apa? Jadi obat nyamuk?"
Mata indah Mu Lan berkedip padanya, "Besok ada adiknya juga, temani aku dong, kumohon."
Dia tertawa, "Menantu jelek ketemu mertua baru takut, kau kan tidak jelek, kenapa takut sama adik ipar?"
Mu Lan merajuk, "Susu—" tapi tangannya menekan dada, "Entah kenapa, begitu kepikiran mau ketemu keluarganya, jantungku berdebar kencang." Dia menangkupkan kedua tangan, "Kumohon padamu, demi persahabatan kita bertahun-tahun, temani aku ya. Aku pasti takut kalau sendirian."
Susu tak tahan dengan rengekannya, terpaksa setuju.
Keesokan paginya Mu Lan datang menjemputnya. Dia mengamati Mu Lan, masih memakai gaun ala Barat, tapi dengan riasan tipis. Rambutnya tergerai di bahu, hanya diikat pita sutra yang disimppul miring membentuk kupu-kupu, tampak jenaka sekaligus cantik. Susu tersenyum, "Dandan begini benar-benar cantik."
Mu Lan justru mengulurkan tangan menimang kepang hitam tebal di depan dada Susu, "Eh, rambutmu sudah sepanjang ini? Biasanya digelung jadi tak kelihatan."
Masih makan makanan Barat, suasana di antara empat orang itu terasa kaku. Adik perempuan Xu Changning, Xu Changxuan, mengenakan pakaian ala Barat yang pantas. Tidak banyak perhiasan mencolok, hanya sebuah cincin berlian minyak tanah sekitar enam karat di tangannya, bersinar terang seperti bintang yang tertanam di jari. Sikapnya pada Mu Lan cukup sopan, memanggilnya "Nona Fang", tapi di balik kesopanan itu terasa ada jarak yang dingin. Susu yang dasarnya pendiam, melihat Mu Lan tak bicara, semakin diam. Hanya terdengar kakak beradik Xu berbincang santai sesekali.
Xu Changning melihat suasana terlalu dingin, sengaja mencari topik, bertanya pada Xu Changxuan, "Ada berita apa di Wuchi? Ceritakan dong."
Xu Changxuan berkata, "Mana ada berita—tapi ada satu hal, hari ini ketemu Jinrui. Dia menagih soal taruhan kemarin, katanya kau masih hutang makan satu kali. Jinrui juga bilang, hari ini mau ke pacuan kuda. Kak, nanti kita juga pergi berkuda, yuk."
Xu Changning berpikir sejenak, lalu Xu Changxuan berkata, "Nona Fang dan Nona Ren ikut main juga ya, lagipula ramai-ramai baru seru."
Xu Changning melirik Mu Lan. Mu Lan tak mau memberi kesan picik pada pertemuan pertama dengan Xu Changxuan, jadi buru-buru berkata, "Boleh, lagipula aku dan Susu sama-sama suka keramaian."
Selesai makan mereka pergi ke pacuan kuda. Sesampainya di sana baru tahu kalau itu pacuan kuda pribadi. Membelakangi gunung menghadap danau, pemandangannya indah sekali. Saat itu sudah akhir musim gugur, tapi hamparan rumput impor yang mahal di depan mata masih hijau bak permadani. Pohon mapel dan acer di pinggir jalan sudah memerah daunnya. Di luar pagar putih setinggi pinggang, ada beberapa pohon ginkgo tinggi besar. Angin bertiup menimbulkan suara kresek-kresek, menjatuhkan "kipas-kipas" kecil berwarna emas ke tanah. Melihat pemandangan seindah ini, Susu merasa segar dan nyaman.
Pergi ke ruang ganti untuk berganti pakaian berkuda, Susu berkata, "Aku tak usah ganti deh, lagipula aku tak bisa naik kuda."
Mu Lan berkata, "Gampang kok, beneran seru. Terakhir kali aku main ke sini, asyik sekali. Kau baru pertama kali naik, nanti kuminta orang menuntun kudanya, dua putaran saja kau pasti sudah bisa."
Begitu keluar setelah ganti baju, benar saja ada orang yang menuntun dua kuda jinak menunggu di sana. Xu Changning tersenyum dan berkata, "Aku khusus pilihkan dua kuda paling penurut untuk kedua nona."
Mu Lan bertanya, "Nona Xu mana?"
Xu Changning mendongakkan wajah. Susu melihat ke kejauhan, di bawah sinar matahari samar-samar terlihat seorang penunggang kuda yang sudah melaju jauh, sungguh tangkas dan meninggalkan debu di belakangnya.
Susu belum pernah mencoba mendekati kuda, baginya itu binatang raksasa, dia merasa takut dan ngeri. Untungnya pelatih kuda itu sangat sabar, "Nona, tolong naik dari sisi kiri depan, jangan mendekat dari belakang, nanti bisa tertendang." Kemudian dia memegang tali kekang dan mengajarinya beberapa poin penting untuk naik kuda. Karena Susu punya dasar menari, dengan ringan dia berhasil naik ke atas kuda. Pelatih melonggarkan tali kekang dan perlahan menuntun kuda berjalan, dengan serius mengoreksi gerakannya satu per satu.
Setelah dia berkeliling dua putaran besar dan kembali, Mu Lan dan Xu Changning sudah tak terlihat batang hidungnya. Dia tahu mereka pasti bersembunyi di tempat lain untuk bicara berdua. Melihat pelatih kuda itu sudah berkeringat di bawah terik matahari, dia merasa tidak enak hati dan berkata, "Anda istirahatlah sebentar, saya coba keliling sendiri."
Pelatih itu juga anak muda, sifatnya lugas. Mendengar Susu bicara begitu, dia mengira Susu ingin mencoba sendiri, jadi tersenyum dan berkata, "Kalau begitu Nona hati-hati ya." Dia menyerahkan tali kekang ke tangan Susu, lalu berjalan kembali ke kandang kuda.
Susu sebenarnya tidak takut, membiarkan kuda berjalan pelan, menyusuri jalur pacuan ke arah selatan. Angin bertiup membuat dedaunan di sekelilingnya berdesir, sinar matahari menyinari permukaan danau biru tak jauh dari situ, menaburkan cahaya seperti pecahan emas. Kandang kuda sudah jauh tertinggal, hanya terlihat samar kontur bangunannya. Sekeliling sunyi senyap, terdengar suara serangga dari rerumputan. Hatinya tanpa sadar mulai sedikit panik. Tepat saat itu, samar-samar terdengar suara tapak kuda. Suara itu berderap kencang mendekat, semakin dekat, semakin jelas. Dia mendongak dan melihat dari kejauhan di lereng bukit, seorang penunggang kuda melaju kencang ke bawah.
Melihat laju kuda yang sangat cepat, dia buru-buru ingin menepi. Tapi karena gugup, dia malah menarik tali kekang terlalu keras. Kuda itu sontak mundur dua langkah. Hatinya makin panik, dia menarik tali kekang lebih kencang lagi. Kuda itu jenis Holstein murni, biasanya sangat dimanja. Mendapat dua kali paksaan ini, kuda itu meringkik panjang lalu memacu keempat kakinya berlari ke depan. Susu tak siap, hampir jatuh dari kuda. Untung reaksinya cepat, tubuhnya condong ke depan sekuat tenaga, jadi dia tidak jatuh. Tapi kuda itu seperti gila, berlari liar tak tentu arah, lurus menuju penunggang kuda di depan sana.
Penunggang di seberang sana sangat tenang. Melihat situasi tak beres, dia menarik tali kekang membelokkan kepala kudanya untuk memberi jalan. Di saat kedua kuda berpapasan, dengan mata jeli dan tangan cepat dia menyambar tali kekang kuda Susu. Kuda Susu meringkik panjang lagi, meronta sekuat tenaga. Susu merasakan guncangan, keseimbangannya hilang dan dia jatuh. Dalam sekejap mata, sepasang lengan sudah melingkari pinggangnya. Kepang rambutnya terurai, rambut panjangnya yang seperti air terjun berhamburan di angin, membentuk kipas hitam berkilau. Dunia serasa berputar, samar-samar dia hanya melihat sepasang mata, segelap dan sedalam air danau tadi, di bawah sinar matahari seolah ada pecahan emas berkedip, menatap lurus padanya.
Langit dan bumi menjadi sunyi, hanya tersisa dia dan lelaki itu. Begitu dekat, dia belum pernah sedekat ini dengan seorang pria, hampir tanpa jarak. Di tubuh lelaki itu tercium aroma samar tembakau dan peppermint. Lengannya masih memeluk pinggang Susu, dari balik pakaian masih terasa hangat suhu tubuh di lengan itu. Rambut depan lelaki itu diacak angin, lembut menyapu dahi yang bersih. Dia bertanya, "Siapa kau?"
Susu ketakutan setengah mati, tak tahu bagaimana menjelaskan semuanya, lebih tak tahu lagi siapa lelaki ini. Dalam kepanikan luar biasa, dia hanya menundukkan kepala. Rambut panjangnya yang seperti air menjuntai turun berantakan, seolah ingin menutupi pandangan agar merasa aman.
Terdengar suara tapak kuda yang riuh, dua tiga penunggang turun dari lereng bukit. Semuanya mengenakan pakaian berkuda hitam yang sama, dari jauh sudah berteriak cemas, "Tuan Muda Ketiga, ada masalah?"
Dia menoleh ke belakang dan berkata, "Tidak apa-apa." Lalu menunduk bertanya pada Susu, "Kau terluka tidak?"
Secara tak sadar Susu menggeleng. Para penunggang kuda itu sudah menyusul, turun dari kuda di depan mereka, menatap Susu dengan ekspresi kaget dan ragu. Susu makin panik, secara naluriah menyusut ke belakang. Lelaki itu justru dengan wajar sedikit mengeratkan pelukannya, seolah menenangkannya, sambil berkata, "Tak apa, sudah tidak apa-apa."
Dia menoleh bicara pada orang-orang itu, nadanya langsung berubah, sangat tegas, "Nona ini tidak bisa naik kuda, siapa yang membiarkan dia sendirian di pacuan? Hal berbahaya begini, harus tunggu kecelakaan dulu baru kalian puas?"
Beberapa kalimat itu membuat orang-orang itu menunduk. Susu perlahan mulai tenang, melihat dua penunggang kuda datang beriringan dari sana, ternyata Mu Lan dan Xu Changning. Melihat orang yang dikenal, hatinya lega, baru sadar dirinya masih dalam pelukan lelaki itu. Wajahnya memerah, dia berkata, "Terima kasih, tolong turunkan saya." Suaranya bercampur malu dan takut, pelan seperti dengungan lalat. Tapi lelaki itu mendengarnya, dia turun dari kuda, berbalik dan tanpa ragu mengulurkan tangan. Susu ragu sejenak, akhirnya menyerahkan tangannya. Tubuhnya terasa ringan, hampir seperti digendong turun oleh lelaki itu.
Baru saja berdiri tegak, Mu Lan dan Xu Changning sudah memacu kuda mendekat. Xu Changning berseru kaget, "Eh", turun dari kuda dan seperti orang-orang tadi, memanggil, "Tuan Muda Ketiga." Lalu tertawa, "Baru saja bilang pada Changxuan, katanya Jinrui datang, kau mungkin juga bakal datang."
Mu Lan juga turun dari kuda, bergegas memegang tangan Susu, bertanya kaget bertubi-tubi, "Kenapa? Ada apa?" Dia orang yang sangat cerdas, melihat situasi juga sudah mengerti sebagian, lalu bertanya lagi, "Kau tidak jatuh, kan?"
Susu menggeleng. Dia melihat Tuan Muda Ketiga itu dengan santai mengetuk-ngetukkan cambuk di tangannya ke taji sepatu botnya, tapi tiba-tiba menoleh menatapnya. Tepat saat itu angin bertiup, Susu sedang merapikan rambut panjangnya dengan tangan, perlahan menundukkan kepala. Terdengar lelaki itu berkata, "Kau mentraktir tamu di tempatku, tapi tidak menjamu nona ini dengan baik. Kalau sampai ada yang jatuh, lihat bagaimana kau membereskannya."
Xu Changning tertawa, "Untung kau muncul tepat waktu." Susu hanya heran dalam hati, mendengar nadanya, ternyata dia pemilik pacuan kuda ini. Pacuan kuda yang begitu megah, tak disangka pemiliknya seorang tuan muda. Terdengar dia berkata lagi, "Changning, malam ini traktir aku makan ya. Bola-bola daging kepiting buatan koki kepalamu itu lumayan otentik."
Xu Changning berseri-seri, "Kau memuji begitu, aku benar-benar tersanjung." Tuan Muda Ketiga itu sepertinya teman akrab yang tak perlu basa-basi dengannya, hanya tertawa, "Kau tersanjung apanya, kita sepakat ya."
Seorang pengawal di samping melangkah maju, membisikkan sesuatu di telinganya. Alis Tuan Muda Ketiga itu terangkat. Xu Changning bertanya, "Kenapa?"
Dia tertawa dan berkata, "Aku sendiri lupa, Ayah menyuruhku pergi ke Danau Mang melihat bandara baru sore ini." Dia mendongak menyipitkan mata melihat matahari, "Sudah terlambat juga, nanti terpaksa bohong saja."
Xu Changning melihat para pengawal memasang wajah susah, lalu tertawa, "Lihat nyali kalian itu, benar-benar bikin malu Tuan Muda Ketiga kalian. Dia saja tidak takut, kalian takut apa?"
Tuan Muda Ketiga tertawa, "Jangan memprovokasi di sini, aku pegang janjiku, malam ini pasti akan mengganggu di rumahmu. Nanti aku telepon Pak Tua Song, kalau Ayah tanya, suruh dia bohong untukku."
Xu Changning senang mendengar janjinya, tiba-tiba teringat, "Sampai lupa mengenalkan kedua nona." Lalu berkata, "Mu Lan, Nona Ren, ini Tuan Muda Ketiga Murong."
Tuan Muda Ketiga itu malah berkata, "Di depan orang luar juga bicara ngawur begini? Aku punya nama, Murong Qingyi."
Mu Lan tadi mendengar percakapannya dengan Xu Changning, sudah samar-samar menebak identitasnya tidak biasa, baru tahu ternyata dia Tuan Muda Ketiga Murong yang terkenal itu. Usianya tak lebih dari dua puluh tahunan, di tangannya memainkan cambuk kulit ular itu. Meski wajahnya tampak acuh tak acuh, tapi sungguh anggun mempesona bak pohon zhilan dan yushu. Xu Changning yang aslinya juga tampan, jadi terlihat kalah pamor. Dalam hati Mu Lan berpikir, ternyata dia mirip ibunya, foto-fotonya sering muncul di koran, anggun dan mewah.
Xu Changning benar-benar langsung menelepon ke rumah, menyuruh orang menyiapkan jamuan. Menjelang senja, semua sudah siap. Susu awalnya tak ingin pergi, tapi Mu Lan merasa kunjungan ke rumah Keluarga Xu ini, meski tidak resmi, adalah kejutan yang menyenangkan. Mana mungkin dia menurutinya, dengan bujukan lembut dia memohon Susu menemaninya. Hampir setengah memohon setengah memaksa, dia menarik Susu naik ke mobil.
6
Jamuan makan malam di kediaman Xu hanya jamuan biasa, namun gaya keluarga kaya raya itu terpancar alami dalam setiap gerak-gerik. Bahkan Mu Lan pun menahan sikapnya yang biasa, menjadi tenang dan pendiam seperti Lin Daiyu memasuki kediaman Jia. Akhirnya makan malam selesai. Pelayan menyajikan kopi, tapi Murong Qingyi mengangkat alis, "Kenapa minum ini?"
Xu Changning tertawa, "Tahu kok, yang disiapkan untukmu teh." Benar saja, pelayan lain menyajikan secangkir teh dalam mangkuk porselen hijau bertutup.
Murong Qingyi tersenyum, "Kau benar-benar kaya ya, pakai ini untuk menjamu tamu."
Xu Changning berkata, "Aku takut kau bilang lagi kalau di tempatku ini cuma ada barang pasaran!"
Murong Qingyi berkata, "Mangkuk Yuguo Tianqing dari era Qianlong yang biasa kupakai itu, pernah sekali dilihat Ayah. Orang tua itu entah kenapa hatinya sedang tidak senang, tanpa sebab bilang 'anak boros', benar-benar bikin sial."
Xu Changxuan di samping menyela, "Set cangkir Junyao yang biasa dipakai Nyonya untuk menjamu tamu itu justru sangat bagus."
Murong Qingyi tertawa, "Sekarang Ibu juga malas, tahun-tahun lalu selalu suka pesta teh dan pesta dansa, tahun ini bahkan jamuan besar di rumah pun jarang." Sambil bicara, dia melihat jam tangan, "Harus pergi, Ayah mungkin sudah menyuruh orang mencariku."
Xu Changning tidak menahannya, hanya mengantar sendiri sampai keluar. Mu Lan dan Susu hanya duduk sebentar lagi, lalu pamit. Xu Changning menyuruh mobil mengantar mereka pulang. Rumah Mu Lan ada di dalam kota, sedangkan Susu tinggal di pinggiran kota, jadi mobil mengantarnya belakangan. Dia berterima kasih, memandangi mobil keluarga Xu pergi, baru berbalik berjalan masuk ke gang.
Malam musim gugur, di semak-semak pinggir jalan terdengar suara serangga krik-krik. Bulan sedang bagus, cahaya perak tumpah ruah, menyinari jalanan hingga licin mengkilap seperti air dan cermin. Dengan bantuan cahaya bulan itu dia mencari kunci di dalam tas. Rumah yang ditinggalinya adalah sebuah halaman kecil, di bawah pagar bambu ditanami beberapa rumpun begonia musim gugur, di bawah sinar bulan pun terlihat dahan dan daunnya yang rimbun. Pintu halaman digembok besi kecil, sudah berkarat karena hujan dan angin, agak susah dibuka. Dia sedang menunduk membuka gembok, ketika mendengar seseorang di belakangnya berkata, "Nona Ren."
Dia terlonjak kaget, tangannya gemetar hingga kunci jatuh ke tanah. Berbalik, dia melihat orang yang datang itu wajahnya agak familiar, hanya tak ingat pernah bertemu di mana. Orang itu tersenyum dan berkata, "Nona Ren, nama saya Lei, atasan saya ingin mengundang Nona Ren minum teh, apakah Nona Ren bersedia?"
Barulah dia ingat, Tuan Lei ini adalah pengawal Tuan Muda Ketiga itu, selalu mendampingi di pacuan kuda dan kediaman Xu, pantas saja dia merasa wajahnya familiar. Karena dia menyebut "atasan saya", pasti itu Tuan Muda Ketiga Murong. Jantungnya berdegup kencang, dia berkata, "Sudah terlalu malam, lain kali kalau ada kesempatan saya akan mengunjungi Tuan Murong."
Tuan Lei itu sangat sopan, berkata, "Sekarang baru jam delapan, tidak akan menyita waktu Nona Ren terlalu lama."
Dia berusaha menolak dengan halus, Tuan Lei itu akhirnya berbalik berjalan ke arah pinggir gang. Baru saat itulah dia melihat ada dua mobil hitam terparkir di pinggir gang, semuanya tersembunyi dalam bayangan tembok. Kalau tidak dilihat teliti, sesaat memang tak terlihat. Sesaat kemudian, terdengar langkah kaki ringan. Dia mengira Tuan Lei itu kembali, rasa takut di hatinya makin dalam, tapi kunci kecil itu entah jatuh di mana, makin panik makin tak ketemu.
Orang itu makin dekat, sinar bulan menyinari wajahnya dengan jelas, ternyata Murong Qingyi sendiri. Bermimpi pun dia tak menyangka dia akan tiba-tiba muncul di gang kumuh seperti ini. Kaget dan takut, dia mundur selangkah. Dia tersenyum memanggil "Nona Ren", melihat sekeliling, dan berkata, "Tempatmu ini sungguh tenang dan elegan."
Dia takut setengah mati. Dia mengulurkan tangan menggenggam tangannya. Dia kaget dan marah, sampai lupa meronta. Dia malah mengangkat tangan, menyibakkan rambut panjangnya yang berantakan kembali ke bahu. Dia pucat pasi, terhuyung mundur, tapi di belakangnya sudah pintu halaman. Jantungnya serasa mau lompat dari dada, "Tuan Murong, tolong bersikap sopan, saya punya pacar."
Mata lelaki itu berkedip tak menentu di bawah sinar bulan, di bibirnya seperti ada senyuman. Keringat dingin keluar di punggungnya. Dia mencengkeram tangannya, berjalan menuju mobil. Pikirannya linglung, sampai di depan mobil baru teringat untuk melepaskan diri. Dia menyusut ke belakang, tapi lelaki itu menarik paksa. Dia tak bisa menjaga keseimbangan, terhuyung ke depan. Lelaki itu memanfaatkan momentum memeluk pinggangnya, dan sudah masuk ke dalam mobil. Pengawal di samping menutup pintu mobil, mobil melaju tanpa suara. Dia ketakutan tak terkira, "Kau bawa aku ke mana?"
Dia tak menjawab. Untungnya selain menggenggam tangannya, dia tak melakukan hal lain yang membuatnya gelisah. Mobil melaju lama sekali baru berhenti. Begitu berhenti, ada orang membukakan pintu untuk mereka. Dia turun lebih dulu, berbalik dan tetap mengulurkan tangan. Baju di punggung Susu sudah basah kuyup oleh keringat, dia duduk di sana tak bergerak seperti patung marmer. Lelaki itu bersikeras mengulurkan tangan. Susu akhirnya tak bisa menolak, akhirnya turun juga. Di sekelilingnya pohon-pohon menjulang tinggi, mengelilingi sebuah bangunan bergaya Barat. Lampu jalan dan lampu taman yang jarang-jarang hanya membuat halaman itu tampak dalam dan sunyi.
Dia berkata, "Ada hadiah untukmu." Masih menggandeng tangannya, berjalan menyusuri jalan setapak batu menuju bagian dalam taman. Dia seperti bermimpi, tertatih-tatih mengikutinya masuk ke halaman lain. Terdengar dia berkata, "Nyalakan lampu." Seketika lampu-lampu menyala terang, dia menahan napas.
Ternyata hamparan teratai hijau tak berujung. Lampu-lampu di kedua sisi tepian seperti untaian mutiara, memanjang jauh ke sana. Di bawah sorotan cahaya, saat angin sepoi bertiup, terlihat daun-daun hijau membalik, anggun seperti payung. Saat itu akhir musim gugur, tapi bunga teratai di sini mekar dengan tenang dan indah. Kelopak-kelopak merah muda yang berdesakan, seperti mangkuk giok kaca menampung cahaya yang mengalir, atau seperti wanita cantik yang mandi cahaya bulan berdiri di atas ombak. Pemandangan ini seperti mimpi dan ilusi, membuatnya terpana.
Dia tersenyum, "Bagus tidak? Di sini dialirkan air panas, jadi bulan Oktober masih ada pemandangan seindah ini."
Dia tersenyum tipis, lesung pipit samar muncul di pipinya, bulu matanya yang panjang bergetar sedikit, seolah angin barat meniup bunga hibiscus, memperlihatkan putik-putik bunga yang rapat dan jarang. Cukup lama kemudian baru dia berkata pelan, "Bagus."
Dia tertawa kecil, berhenti sejenak, bertanya, "Siapa namamu?"
Aroma teratai tercium samar-samar, kabut air tipis menyelimuti kolam teratai, segalanya seperti alam mimpi. Dia menundukkan kepala, "Ren Susu."
Dia bergumam pelan, "Susu... suyi suxin (baju putih hati murni), nama ini sangat bagus." Dia mendongak melihat lelaki itu sedang menatapnya, merasa wajahnya sedikit memerah, lalu perlahan menundukkan kepala lagi. Di bawah cahaya lampu, angin dingin bertiup, rambut-rambut halus di lehernya bergerak pelan, semakin menonjolkan kulitnya yang seputih lemak giok. Dia bertanya, "Kenapa tidak senyum lagi? Kau senyum cantik sekali." Susu mendengar dia bicara begitu, entah kenapa hatinya jadi takut, hanya menunduk diam. Dia mengulurkan tangan mengangkat wajahnya pelan, berkata, "Bunga terkenal dan negara yang takluk, keduanya saling menyukai. Hmm... puisi ini meski kiasan lama, tapi bunga hibiscus ini dan kau, justru saling memancarkan keindahan. Susu, kau tidak mengerti perasaanku?" Dia buru-buru mundur selangkah, berkata, "Tuan Muda Ketiga, saya..." Tapi dia tiba-tiba menciumnya. Dia merasa napasnya tercekat, kehangatan di bibir itu seakan merenggut semua pikiran, hanya menyisakan kekosongan karena panik. Dia meronta, lengan lelaki itu seperti besi melingkarinya. Dalam kepanikan dia mengangkat tangan mencakar wajahnya. Dia berseru "Ah", kesakitan dan akhirnya melepaskan tangan.
Dia kaget dan takut, matanya penuh kepanikan. Lelaki itu menekan luka di wajahnya. Dia hanya mendengar napasnya sendiri yang pendek dan cepat, jantungnya seperti mau melompat keluar. Lelaki itu hanya diam, sesaat kemudian baru tersenyum tipis, "Hari ini aku baru tahu, ternyata aku begitu menyebalkan."
Dia bernapas susah payah, baju di punggungnya basah keringat, angin malam bertiup membuatnya menggigil kedinginan. Dia berkata, "Aku mau pulang." Murong Qingyi diam lagi sesaat, baru berkata, "Baiklah, aku suruh orang mengantarmu pulang."
Sampai di mobil, baru dia sadar dahinya penuh keringat dingin. Pergelangan tangannya meninggalkan dua bekas merah akibat cengkeraman lelaki itu. Hatinya masih diliputi rasa takut yang tertinggal. Lampu-lampu di luar jendela mobil berkedip-kedip melintas pandangan, seperti meteor yang lewat sekejap, atau seperti kunang-kunang di musim panas, timbul tenggelam. Pergelangan tangannya hanya terasa sakit samar, tapi ketakutan di hatinya semakin lama semakin jelas.
Pukul sepuluh pagi, di kediaman resmi baru terlihat pelayan berlalu-lalang. Bunga krisan di tepi kolam renang sedang mekar-mekarnya, sengaja dibuatkan rak bunga untuk memajangnya. Terlihat hamparan warna-warni ungu dan merah bersaing keindahan, bunga mekar rimbun seperti kain sutra. Sinar matahari pagi memancarkan warna keemasan tipis, terpantul pada bunga seolah menjadi air terjun lima warna yang mengalir, sungguh indah luar biasa. Meja sarapan diletakkan di depan rak bunga, sarapan seperti biasa adalah tugas koki masakan Barat. Tiga orang sedang makan, sesekali terdengar denting pelan pisau dan garpu, lalu kembali sunyi, begitu sunyi hingga suara air mancur di ujung halaman terdengar jelas. Tepat saat itu, dari kejauhan di lorong terdengar suara langkah sepatu kulit. Li Boze mendongak, belum melihat orangnya, suara langkah kaki itu sampai di tikungan, tapi kemudian tak terdengar lagi, pasti masuk ke dalam rumah lewat pintu belakang. Dia tersenyum, berkata pada istrinya di samping, "Pasti si nomor tiga pulang."
Jinrui meletakkan pisau dan garpu, mengangkat cangkir kopi mencicipi sedikit, baru berkata, "Ibu, Ibu juga tidak mengatur si nomor tiga, membiarkan orang-orang di dekatnya memanjakan dia berbuat sembarangan. Lihat gayanya yang sembunyi-sembunyi itu, kalau sampai ketahuan Ayah, pasti bakal marah lagi."
Nyonya Murong tersenyum tipis, mengangkat wajah, meletakkan serbet di tangannya. Pelayan di samping buru-buru maju, mendengarnya memerintah, "Coba lihat, apa si nomor tiga pulang. Kalau dia, suruh dia datang menemuiku."
Pelayan itu pergi melaksanakan perintah. Sesaat kemudian, benar saja dia mengantar Murong Qingyi datang. Dia sudah berganti pakaian, melihat ketiga orang itu, dia tersenyum ramah, "Hari ini lengkap sekali, Ibu, Kakak, Kakak Ipar ada semua."
Nyonya Murong berkata, "Jangan cengar-cengir di sini. Aku tanya, kenapa kemarin malam kau tidak pulang? Ayahmu kemarin menyuruh orang mencarimu ke mana-mana, kali ini aku tidak mau ikut campur, nanti kau jelaskan sendiri padanya."
Murong Qingyi masih tersenyum, "Ayah mencariku? Beliau pasti lupa, kemarin aku diperintahkan pergi ke Danau Mang, kemalaman jadi tak bisa pulang." Sambil bicara, dia menarik kursi dan duduk.
Jinrui mendengus tertawa, meletakkan cangkir dan berkata, "Nomor tiga, tak usah bohong di sini, coba kau jelaskan, ini apa?" Sambil bicara dia menunjuk ke wajahnya. Nyonya Murong baru memperhatikan, ternyata di bawah mata kirinya ada bekas luka goresan panjang, buru-buru bertanya, "Ini kenapa?"
Murong Qingyi tersenyum dan berkata, "Kemarin di gunung, tergores ranting pohon."
Nyonya Murong menggelapkan wajah, "Omong kosong, ini jelas-jelas seperti cakaran kuku."
Jinrui mengamati luka gores itu teliti, tersenyum simpul, "Menurutku pasti dicakar perempuan."
Murong Qingyi tertawa, "Kakak Ipar, dengar omongan Kakak ini, hebat kau tahan dengannya bertahun-tahun."
Nyonya Murong berkata, "Jangan melucu di sini mau mengalihkan pembicaraan. Kelakuanmu di luar itu, Ayahmu tidak tahu, kalau tahu, lihat saja nyawamu bakal melayang tidak."
Murong Qingyi melihat ibunya memasang wajah serius, tapi dia tersenyum ringan, berkata, "Bu, jangan marah dong, dokter kan bilang marah-marah bikin keriput?" Sambil bicara, dia mengedipkan mata pada Jinrui, "Kak, kalau Ibu tambah keriput, itu gara-gara mulutmu."
Jinrui tertawa, "Kau bisanya cuma memfitnah, Ibu marah juga gara-gara ulahmu, apa hubungannya denganku?"
Murong Qingyi tertawa, "Mana berani aku bikin Ibu tidak senang, aku malah berharap Ibu membantuku bicara baik-baik."
Nyonya Murong berkata, "Pokoknya aku tidak bisa mengaturmu lagi, nanti tinggal bilang Ayahmu, biar dia yang memberimu pelajaran, baru kau ingat."
Murong Qingyi berusaha keras menunjukkan wajah menyesal, "Toh tidak bisa menghindar, sudahlah sudahlah, paling cuma kena pukul sekali."
Nyonya Murong menghela napas, "Coba kau pikir sendiri, terakhir kali Ayahmu marah besar begitu, kenapa kau tidak mau berubah sedikit? Orang-orang di luar itu, bukan orang baik, urusan bener tidak bisa, bisanya cuma kasih ide-ide nakal."
Jinrui kembali mendengus tertawa, "Ibu, omongan Ibu ini bias. Tapi orang tua di dunia ini, memang bias begini. Selalu mengira anaknya anak baik, kalaupun salah, itu pasti hasutan orang lain."
Nyonya Murong memarahinya, "Anak ini." Tapi dia tahu Jinrui bicara jujur, dirinya memang bias, hanya karena putra sulungnya meninggal muda, putra bungsu ini mau tak mau jadi terlalu dimanja. Tapi bagaimanapun dia sangat sayang anak, jadi bertanya pada Murong Qingyi, "Belum sarapan, kan?" Menoleh pada pelayan, "Suruh dapur buatkan satu porsi lagi."
Dia kembali meneliti luka di wajah anaknya, bertanya, "Sebenarnya siapa yang mencakar? Tega sekali tangannya, kalau lebih ke atas lagi, apa tidak kena mata?" Lalu bertanya pada orang di samping, "Kemarin siapa saja yang ikut nomor tiga?"
Murong Qingyi malah berkata, "Bu, bukan masalah besar sampai patah tulang, Ibu heboh begini panggil mereka tanya-tanya, kalau sampai terdengar ke telinga Ayah, baru benar-benar bakal patah tulang."
Saat itulah Li Boze tertawa, "Ibu tenang saja, nomor tiga bilang tidak apa-apa, berarti tidak apa-apa." Jinrui juga tertawa, "Dia ini juga terhitung rugi? Nomor tiga kita ini, biasanya perempuan yang rugi karena dia, tak pernah ada cerita dia yang rugi karena perempuan."
Murong Qingyi tertawa, "Kak, kenapa hari ini kau tak mau melepaskanku?"
Jinrui berkata, "Aku ini demi kebaikanmu." Lalu berkata lagi, "Sekarang kau ini kuda liar, masa benar-benar tak ada harinya dipasangi kekang? Nanti aku beritahu Nona Kang, lihat bagaimana pendapatnya."
Murong Qingyi justru marah, "Buat apa sebut dia? Dia itu siapaku?"
Pertengkaran kakak beradik itu sudah biasa bagi Nyonya Murong, melihat putranya marah, baru dia berkata, "Aku justru mau tanya padamu, dua bulan ini tak lihat dia datang ke rumah, kau dan dia kenapa?"
Murong Qingyi berkata, "Aku dan Kang Minxian sudah lama putus, kalian juga jangan sebut-sebut dia lagi."
Jinrui berkata, "Minxian cantik, pintar, dan ramah. Di antara kawan lama keluarga, jarang ada gadis seistimewa dia, bahkan Ayah memujinya 'cerdas, bijak, dan baik, orangnya seperti namanya'. Kenapa kau perlakukan dia begitu?"
Murong Qingyi hanya tidak sabar, berkata, "Bu, aku masih ada urusan dinas, pergi dulu ya." Tanpa menunggu Jinrui bicara lagi, dia berdiri.
Nyonya Murong melihatnya pergi terburu-buru, baru berkata, "Jinrui, kau ini kenapa hari ini?"
Jinrui berkata, "Aku demi kebaikannya. Nomor tiga muda dan sembrono, aku takut dia bikin masalah, nanti kalau Ayah tahu, kita semua kena getahnya."
Nyonya Murong berkata, "Justru karena muda, makanya kerjanya main perempuan. Siapa yang tidak melewati masa seperti ini? Asal dia tidak bikin masalah, aku tutup mata satu biarkan saja dia. Ayahmu biasanya paling ketat mengawasinya, kalau aku ikut menekannya, takutnya malah jadi kaku. Watak nomor tiga kau kan tahu, kalau sudah keras kepala, omongan siapa pun tak didengar. Waktu itu Ayahmu marah begitu, dia diam saja tak bersuara. Kalau mau bicara manis sedikit, mana sampai bikin Ayahmu murka besar? Kalau bukan aku masuk menahan, entah Ayahmu bakal berbuat apa lagi." Lalu berkata lagi, "Ayah dan anak, sama-sama punya watak buruk. Ayahmu juga, tangan menyambar apa dapatnya apa, nomor tiga lebih keras kepala lagi, mata melihat pemberat kertas dilempar, tahu bakal kepala bocor berdarah juga tidak menghindar, sampai sekarang bekas lukanya tertutup rambut."
Jinrui tertawa, "Bu, Ayah cuma menghajarnya sekali, Ibu sudah ngomong berapa kali? Ini yang namanya dipukul di badan anak, sakit di hati ibu."
Sementara itu Susu membolos satu hari, Mu Lan selesai kuliah langsung mencarinya. Jalannya terlalu jauh, jadi dia naik becak. Turun di mulut gang dan berjalan masuk, waktu itu senja, setiap rumah sedang memasak makan malam. Di atas kompor briket di pinggir jalan, panci tanah liat mengepulkan uap panas, anak-anak bermain dalam kelompok tiga lima orang di gang, tawa mereka melengking tajam. Dari jauh Mu Lan melihat pintu halaman tertutup, dalam hati berpikir, apa tidak di rumah? Setelah dekat baru terlihat, pintu halaman ternyata hanya tertutup tidak rapat. Dia mendorong pintu masuk, memanggil di halaman, "Susu." Tak ada jawaban, maju beberapa langkah, pintu rumah juga hanya tertutup tidak rapat, jadi memanggil lagi, "Susu." Lampu di dalam rumah tidak dinyalakan, beberapa berkas sinar matahari sore masuk lewat jendela yang menghadap barat. Dalam cahaya remang-remang, terlihat dia berbaring di tempat tidur, mendengar langkah kaki, baru perlahan berbalik bangun, bertanya, "Kenapa kau datang?"
Mu Lan mendengar suaranya masih seperti biasa, dia sudah sering datang, dengan santai menyalakan lampu, berseru kaget "Eh" dan bertanya, "Wajahmu kenapa pucat begini, apa sakit?"
Susu menggeleng, "Aku cuma sakit kepala, jadi ingin tidur sebentar."
Mu Lan berkata, "Sudah kuduga kau tidak enak badan, kalau tidak pasti tidak akan bolos." Lalu berkata, "Malam ini Changning traktir, rencananya mau mengajakmu sekalian."
Susu menyisir rambut panjangnya yang berantakan, entah kenapa dia tertegun. Mu Lan berkata lagi, "Tidak ada orang lain, cuma dia dan Changxuan, traktir kita berdua makan masakan Yangzhou."
Susu berkata, "Kondisiku begini, benar-benar tidak bisa pergi, Mu Lan, maaf ya."
Mu Lan tertawa, "Cepat bangun, sisir rambut cuci muka, kujamin kau bakal segar lagi." Lalu berkata, "Kau ini sakit karena bosan, keluar makan jalan-jalan, siapa tahu sembuh."
Susu memaksakan senyum, "Aku benar-benar tidak ingin pergi."
Mu Lan menarik tangannya, "Seberapa tidak enak badan juga harus makan. Aku ingat kau paling suka masakan Yangzhou, kali ini di Ershisi Qiao (Jembatan Dua Puluh Empat), restoran Huaiyang asli." Tanpa bisa ditolak, dia mendorong Susu ke depan wastafel, "Cepat cuci muka ganti baju."
7
Susu tak berdaya, terpaksa mandi dan berdandan seadanya lalu pergi bersamanya. Ershisi Qiao itu adalah restoran yang sedang populer saat ini. Mereka turun di depan pintu, pelayan dengan hormat mengantar mereka ke ruang privat di lantai tiga. Di ruang privat itu, kakak beradik Xu sudah tiba lebih dulu. Keempat orang itu duduk di meja, dan seseorang menyajikan teh. Kue-kue disajikan lebih dulu, yaitu kue Yunsi, zongzi ala Hongfu, shaobing renyah, dan kue Zeng'er empat macam. Susu melihat warna teh di cangkir hijau jernih, aromanya pun tercium segar menyenangkan. Di samping, pelayan berbisik menanyakan sesuatu di telinga Xu Changning, terdengar Xu Changning berkata, "Tunggu sebentar lagi, tuan rumahnya belum datang."
Susu mendengar dia bicara begitu, hati merasakan kegelisahan yang tak terkatakan. Belum selesai dia bicara, terdengar pintu ruang privat sudah dibuka. Di balik sekat terdengar langkah kaki, jantungnya berdegup kencang. Benar saja, Xu Changning tersenyum dan berdiri, "Tuan Muda Ketiga, kau yang mentraktir, kenapa malah datang paling telat?"
Terdengar dia tertawa, "Mendadak ada urusan tertunda, bikin kalian menunggu, maaf sekali."
Susu baru mengangkat kepala, terlihat dia mengenakan seragam militer lengkap, dengan santai melepas topi dan menyerahkannya pada pengawal di belakang. Tatapannya tertuju padanya. Susu buru-buru menunduk minum teh, tak sadar teh itu sudah agak dingin, terasa agak sepat di mulut. Terdengar Xu Changning berkata, "Baju pun belum ganti sudah buru-buru datang, bolehlah kau dibilang punya niat tulus."
Dia tertawa, "Bukan cuma bolehlah, tapi niat tulus seratus persen."
Satu per satu hidangan disajikan, masakannya memang sangat halus, pelayanan pelayan juga sangat memuaskan. Susu tidak berselera, hanya mencicipi sedikit. Jamuan makan ala Tiongkok memakan waktu lama, sampai sup terakhir disajikan, sudah hampir dua jam berlalu. Xu Changning berkata, "Nanti kita main kartu yuk."
Mu Lan berkata, "Aku dan Susu harus pulang, besok masih ada kuliah."
Xu Changning berkata, "Boleh juga, aku antar kalian pulang." Berhenti sejenak, dia melanjutkan, "Mobilku, kita bertiga sudah penuh, Tuan Muda Ketiga, maaf merepotkanmu mengantar Nona Ren."
Susu buru-buru berkata, "Tidak usah, saya naik becak pulang, juga sangat praktis."
Mu Lan juga berkata, "Aku dan Susu sama-sama naik becak pulang saja."
Xu Changning malah berkata, "Sudah semalam ini, jalannya jauh, kalian dua gadis, bagaimanapun bikin orang tidak tenang. Cuma merepotkan Tuan Muda Ketiga sekali jalan saja kok." Dia berdiri menggandeng tangan Mu Lan, menoleh mengajak Xu Changxuan, "Kita pergi." Xu Changxuan tersenyum tipis pada Susu, lalu ketiganya pergi dengan anggun.
Ruang privat itu seketika hanya menyisakan mereka berdua. Susu diam-diam berdiri, telapak tangannya berkeringat, terasa lengket, tas tangannya terasa seberat seribu kati. Menunduk dia mengikutinya keluar, sampai di dalam mobil, baru dia bertanya, "Dengar-dengar kau tidak enak badan, apa sakit?"
Susu menggeleng. Hari ini dia keluar terburu-buru, mengenakan cheongsam pendek warna putih motif bunga lilac kecil, yang menonjolkan wajah tirusnya, membuatnya tampak sangat rapuh dan mengundang iba. Dia melihat lelaki itu menatapnya tanpa berkedip, membuatnya semakin canggung, terpaksa perlahan menundukkan kepala. Terdengar dia tertawa kecil, berkata, "Kau ini benar-benar sifat anak kecil, masih marah karena kelancanganku?" Berhenti sejenak, dia berkata lagi, "Sudahlah, anggap saja itu salahku."
Mendengar dia bicara begitu, Susu hanya menunduk. Jalanan tidak terlalu mulus, mobil sedikit berguncang, tapi dia mengulurkan tangan, berkata, "Untukmu."
Sebuah kotak kain kecil. Susu tak mau menerima, dia membukanya untuk diperlihatkan. Ternyata sepasang gelang giok, hijau jernih seperti dua mata air. Meskipun dia tidak tahu apa itu "giok kaca", tapi melihat kilau cahayanya, dia menggeleng, "Barang semahal ini, maaf saya tidak bisa terima."
Dia juga tidak memaksa, hanya bertanya, "Kalau begitu minggu ini, pergi berkuda lagi?"
Susu hanya menggeleng. Mobil menjadi sunyi. Sesaat kemudian, sudah sampai di mulut gang. Susu seperti menghela napas lega, setelah turun masih sangat sopan mengucapkan terima kasih. Murong Qingyi melihatnya masuk ke pintu halaman, baru memerintahkan sopir, "Jalan."
Lei Shaogong melihatnya mengikat pita di kotak kain itu, lalu membukanya, sesaat kemudian mengikatnya lagi, begitu berulang kali. Hatinya heran, jadi bertanya, "Tuan Muda Ketiga, kembali ke Shuangqiao?"
Murong Qingyi berkata, "Ke Shuangqiao, setidaknya harus setor muka di depan Ibu."
Kediaman resmi sangat ramai, Nyonya Murong mengundang beberapa tamu wanita makan malam. Jamuan baru selesai, para tamu wanita berkumpul di ruang tamu sisi barat minum teh, mendengarkan seorang maestro Kunqu menyanyikan Qiqiao. Murong Qingyi melihat semuanya tamu wanita, jadi berhenti sebentar di luar pintu. Jinrui mendongak melihatnya, memanggil, "Nomor tiga, kenapa tidak masuk?" Dia pun masuk, memanggil "Ibu". Nyonya Murong tersenyum dan berkata, "Hari ini pulangnya cepat, kenapa baju pun belum ganti?"
Dia menjawab, "Begitu pulang langsung ke sini." Melihat Nyonya Murong tak berkedip menatap panggung, dia mengambil kesempatan berkata, "Aku ganti baju dulu." Lalu dia keluar dan naik ke atas. Setelah berganti setelan jas dan turun, melihat ruang tamu barat masih penuh tawa canda, dia langsung belok kiri dari lorong, berjalan ke depan rumah, memerintahkan minta mobil. Kantor Ajudan tak menyangka dia baru pulang sudah mau pergi lagi. Lei Shaogong bertanya, "Ke Duanshan?" Dia menjawab dengan wajah masam, "Banyak omong!"
Lei Shaogong tahu wataknya, jadi tak bertanya lagi, menyuruh orang mengeluarkan mobil lagi. Setelah masuk mobil, baru terdengar dia memerintah, "Aku tidak peduli kau pakai cara apa, bawa Nona Ren ke Duanshan menemuiku." Lei Shaogong mendengar kalimat ini, mulut menjawab "Siap", tapi hati sangat bingung. Namun dia sangat tahu watak Tuan Muda Ketiga ini, tak ada ruang untuk tawar-menawar.
Dia adalah ajudan paling dipercaya, sudah lama mendampingi, statusnya setengah teman. Murong Qingyi melihat wajahnya, akhirnya tak tahan untuk tertawa, "Payah, waktu itu kusuruh kau mengajak Ye Fangfei, tak terlihat kau sesusah ini." Lei Shaogong mendengar dia bicara begitu, tahu urusan ini sudah dianggap lewat, jadi menjawab dengan senyum lebar, "Nona Ye walau bintang besar, tapi dengar Tuan Muda Ketiga ajak makan, setujunya bukan main cepatnya. Tapi Nona Ren ini..."
Sambil bicara, dia memperhatikan ekspresi Murong Qingyi. Benar saja hatinya seperti ada beban, tampak gelisah tak tenang. Sesaat kemudian, dia malah menghela napas. Lei Shaogong mendengar nada suaranya tak senang, tak berani bicara. Melihat dia melambaikan tangan mengisyaratkan boleh pergi, dia pun mundur kembali ke ruang jaga Kantor Ajudan.
Malam itu tugas santai, dua rekan di ruang jaga sedang menyeduh teh Tieguanyin, duduk mengobrol. Melihatnya masuk, bertanya, "Tuan Muda Ketiga mau keluar?" Lei Shaogong menjawab, "Awalnya mau keluar, lalu berubah pikiran." Seorang ajudan tertawa, "Tuan Muda Ketiga kita, ada kalanya juga menendang papan besi." Peraturan Kantor Ajudan sangat ketat, meski sesama rekan, tapi cuma bicara satu kalimat ini, lalu buru-buru tertawa mengalihkan, bicara hal lain. Lei Shaogong duduk minum teh, hati juga berpikir, Nona Ren itu ternyata memang punya sedikit karakter—semoga Tuan Muda Ketiga cuma penasaran sesaat, besok ketemu orang lain, dengan sendirinya lupa.
Hari kedua adalah hari libur Lei Shaogong. Kebetulan teman sekolahnya pulang ke tanah air, sekumpulan teman mengadakan pesta penyambutan di Paviliun Phoenix. Anak-anak muda lama tak bertemu, tentu sangat ramai. Dia pulang ke rumah kira-kira sudah jam tujuh delapan malam. Baru saja sampai rumah, terima telepon dari Kantor Ajudan, buru-buru bergegas ke Duanshan. Dari jauh melihat ajudan yang bertugas berdiri di bawah serambi hujan, sedangkan di dalam rumah sudah sunyi senyap, jadi dia masuk tanpa suara. Terlihat di lantai sebuah vas bunga pecah berkeping-keping. Bunga krisan merah yang tadinya tertancap di vas, berserakan di lantai, melintang sana-sini, di atas karpet biru tua, malah seperti menambah keindahan. Dia hati-hati menghindari bunga patah yang berserakan, berjalan masuk ke kamar. Terlihat Murong Qingyi setengah berbaring di dipan kayu cendana merah, tangan memegang majalah Inggris, tapi matanya menatap ke arah partisi. Dia memanggil, "Tuan Muda Ketiga." Dia menyahut "Hm", bertanya, "Hari ini bukannya kau libur?"
Lei Shaogong melihat situasi ini, sudah bisa menebak sebagian. Tahu marahnya sudah selesai, jadi tersenyum berkata, "Daripada bosan di rumah, jadi ke sini." Lalu berkata lagi, "Buat apa melampiaskan marah pada barang, aku sudah lama naksir vas bunga teratai lilit glasir kuning Yongzheng itu, tak berani minta padamu, tak disangka hari ini kau pecahkan." Wajahnya penuh penyesalan. Murong Qingyi tahu dia sengaja bicara hal tak penting, tangan membalik majalah, berkata, "Jangan berputar-putar di sini, ada apa katakan."
Lei Shaogong menjawab "Siap". Berpikir sejenak, berkata, "Tuan Muda Ketiga, bagaimana kalau minggu ini pergi berburu, ajak Huo Zongqi dan Kang Mincheng sekalian." Murong Qingyi meletakkan majalah, bangun dari sandaran, berkata, "Sudah dibilang tak usah berputar-putar, kenapa masih cerewet?" Lei Shaogong baru berkata, "Nona Ren itu walau cantik, bagaimanapun cuma seorang wanita, Tuan Muda Ketiga tak usah masukkan ke hati."
Murong Qingyi bertanya, "Siapa lagi yang mulut ember memberitahumu?" Lei Shaogong berkata, "Tuan Muda Ketiga mengamuk begini, mereka tentu tak berani menyembunyikan." Murong Qingyi berkata, "Jangan pakai bahasa birokrat denganku." Hatinya tetap tak enak, diam sebentar, baru berkata, "Awalnya aku kira, dia bilang punya pacar itu cuma alasan."
Lei Shaogong melihat wajahnya, ternyata ada sedikit ekspresi kecewa, hati jadi kaget. Melihat goresan di bawah mata kirinya, bekas luka tinggal garis samar, teringat kejadian di tepi kolam teratai hari itu, buru-buru mengalihkan pembicaraan, "Nanti malam ajak Nona Feng berdansa yuk, aku telepon ya?" Murong Qingyi malah mendengus. Lei Shaogong takut terjadi apa-apa, Murong Feng mendidik anak sangat keras, kalau terdengar telinganya, tak terhindarkan bakal jadi bencana. Bilang mau telepon, dia keluar bertanya pada ajudan, "Hari ini sebenarnya karena apa?" Dia merangkap jabatan Wakil Kepala Kantor Ajudan, bawahan tentu tak akan menyembunyikan, menceritakan padanya satu per satu: "Sore jam lima lewat, Tuan Muda Ketiga pulang dari Fanming, mobil menunggu feri di dermaga, kebetulan melihat Nona Ren dan temannya di tepi sungai." Dia tanya beberapa kalimat lagi, hati sudah mengerti, berpikir pokoknya karena belum dapat, makanya tidak rela begini. Mendongak melihat Murong Qingyi keluar, buru-buru menyambut, bertanya, "Tuan Muda Ketiga, mau ke mana?"
Murong Qingyi mengangkat wajah, berkata, "Tak ke mana-mana, aku di sini, kau pergi." Dia mendengar kalimat ini, hati mengerti, tapi tahu tak baik menasihati. Bagaimanapun masih muda, belum pernah kena penolakan, makanya terbentuk watak begini. Lei Shaogong diam cukup lama baru berkata, "Kalau Tuan..."
Murong Qingyi malah berkata, "Urusan kita, bagaimana Ayah bisa tahu? Kecuali kalian mengadu." Bicara begini, tandanya marah lagi. Lei Shaogong terpaksa menjawab "Siap", minta mobil lalu keluar.
Lei Shaogong pergi, rumah kembali sunyi. Ini hanya tempat tinggal sementaranya saat senggang, jadi tak ada pelayan, para ajudan juga karena dia barusan marah, semua berada jauh. Dia berjalan menyusuri jalan setapak batu kerikil ke belakang, di kedua sisi ada pagar tanaman. Di sela-sela daun cokelat tua tanaman rambat yang rapat itu mekar bunga-bunga putih kecil, dilihat teliti baru tahu itu bunga melati terselip di antaranya. Dia berjalan sampai ke depan kolam teratai. Angin bertiup, membuat daun teratai di kolam membalik, seperti tak terhitung banyaknya rok kasa hijau. Tiba-tiba teringat hari itu, dia mengenakan baju hijau, rambut hitam panjang tergerai di depan dada, mata seperti dua mata air musim gugur, begitu tenang sampai membuat orang terpesona—saat tersenyum, juga senyum ringan tak terlihat gigi, tapi sudut mulut sedikit terangkat ke atas, seperti bulan sabit baru, memancingnya ingin mencium—bekas goresan di wajah, kini sudah memudar, tapi bagaimanapun membuatnya seumur hidup pertama kali merasakan perlawanan. Kegelisahan di hati, ditiup angin musim gugur yang dingin jadi makin riuh.
Dia berdiri sebentar lagi, ajudan sudah datang mencari, "Tuan Muda Ketiga, Nona Ren sudah sampai."
Rumah Vila Duanshan walau kecil, tapi perabotannya sangat indah. Kamar didekorasi gaya Tiongkok, perabot kayu cendana merah, kasur alas duduk seragam sulaman Suzhou warna dupa, disulam dengan benang perak motif bunga hibiscus besar-besar, terlihat berkilauan. Di dekat pintu ada partisi kayu cendana merah dua belas panel, partisi itu diukir tembus dua belas macam bunga, warna kayunya ungu sampai samar-samar kemerahan, berkilau seperti giok. Cahaya lampu lantai menembus kap kain kasa hanya berupa gumpalan kuning redup, seperti cahaya lilin masa lalu menyinari partisi itu. Cekungan ukiran bunga berwarna hitam pekat, seperti hitamnya malam. Mendengar langkah kaki, rasa takut Susu makin dalam, perlahan mundur selangkah. Murong Qingyi melihat wajahnya pucat pasi, rambut pelipis agak longgar, jelas ketakutan. Maka berkata, "Jangan takut, ini aku." Tapi dia ketakutan mundur terus ke belakang, sampai tak bisa mundur lagi, panik seperti rusa kecil masuk perangkap. Sepasang mata hitam bulat itu penuh kepanikan, menatap lurus padanya, "Aku mau pulang." Dia tertawa kecil, "Di sini tidak lebih bagus dari rumah?" Menarik tangannya, membimbingnya berjalan ke depan meja tulis, membuka sebuah kotak. Di bawah lampu cahaya permata berkilauan, sinarnya mengalir, membuat wajah orang jadi jernih.
Dia berbisik, "Mutiara ini, kabarnya dari istana, diturunkan dari tangan Nenek, namanya 'Yue'." Mengambil kalung itu, hendak dipakaikan ke lehernya. Dia hanya buru-buru berkata, "Aku tidak mau, aku mau pulang." Mengulurkan tangan menolak, tapi pergelangan tangannya ditangkap. Dia memanggil pelan, "Susu." Dia tak bisa berdiri tegak, ditarik ke depan hingga kehilangan keseimbangan, langsung jatuh ke pelukannya. Dia meronta, tapi tak bisa lepas. Dia menunduk menciumnya, dia meronta mengangkat tangan, tapi dia sudah waspada, memiringkan wajah menghindar. Dia hanya ingin lepas dari kurungannya, tapi tenaga akhirnya kalah. Ciumannya rapat-rapat dicapkan di bibirnya, di wajahnya, di lehernya. Dalam keputusasaan dia hanya meronta, ujung jari menyentuh porselen dingin di meja tulis, tapi tak sampai. Dia kerahkan seluruh tenaga akhirnya melepaskan satu tangan, tenaga terlalu kuat hingga tubuh miring menubruk meja tulis, cangkir teh di meja "prang" tersapu jatuh ke lantai, hancur berkeping-keping.
Ketakutan serasa menutupi langit dan bumi, dia hanya merasa tubuhnya ringan, dunia berputar saat digendong olehnya. Air mata panas karena panik menetes di tangannya. Dia spontan menyambar pecahan porselen. Mata jeli tangan cepat dia memegang pergelangan tangannya, merebut pecahan itu dan melemparnya jauh-jauh. Dia bernapas cepat, air mata mengalir deras, tapi akhirnya kalah tenaga darinya. Dia terisak, kuku menancap ke lengan lelaki itu, tapi lelaki itu sama sekali tak peduli, membabi buta merebut paksa. Dia melawan sekuat tenaga, air mata membasahi rumbai bantal, dingin menempel di pipi, dingin yang tak bisa dihindari, dingin ini justru lebih membakar daripada api, seolah bisa menghancurkan segalanya. Di luar jendela terdengar suara hujan ringan, memukul daun wutong dengan suara sasa pelan, makin lama makin jelas terdengar. Pakaian jatuh tanpa suara ke lantai, seperti bunga merah yang gugur di tengah angin dan hujan.
Sekitar jam enam, hujan makin deras, terdengar suara air huahua di mana-mana. Musim gugur di Wuchi adalah musim hujan, uap air melimpah, tapi hujan deras begini juga jarang terjadi. Lei Shaogong tiba-tiba kaget bangun, menyibak selimut duduk, memasang telinga, benar saja telepon berbunyi. Sesaat kemudian, terdengar langkah kaki dari lorong, hati tahu ada kejadian, buru-buru pakai baju turun dari tempat tidur. Ajudan yang bertugas sudah sampai di pintu kamar, "Telepon dari Shuangqiao, katanya Tuan cari Tuan Muda Ketiga."
Hatinya mencelos, buru-buru menyeberangi lorong naik ke lantai dua, tak peduli banyak hal lagi, mengetuk pintu tiga kali pelan. Murong Qingyi biasanya tidur sangat nyenyak, tapi saat ini terbangun mendengarnya, bertanya, "Ada apa?"
"Shuangqiao bilang Tuan mencari."
Mendengar dia bicara begitu, Murong Qingyi juga tahu ada masalah. Sesaat kemudian turun ke bawah. Lei Shaogong sudah menyuruh orang menyiapkan mobil, masuk mobil baru berkata, "Tidak dibilang ada apa, tapi—" Sampai di sini, berhenti sebentar. Langit masih sepagi ini, pasti situasi mendadak, kemungkinan bukan kabar baik.
Hujan sedang turun sangat deras, lampu mobil menyinari, air putih memutih seperti lautan. Sekeliling hanya suara hujan, berbunyi huahua seperti langit bocor. Hujan itu seperti ditumpahkan dari ember dan baskom, makin lama makin deras. Duanshan ke Shuangqiao tidak terlalu jauh, karena langit gelap, hujan terlalu deras, mobil tak berani cepat, ternyata butuh hampir satu jam baru sampai Sungai Bichong. Di atas Sungai Bichong, satu di timur satu di barat dua jembatan lengkung batu panjang, itulah asal nama tempat Shuangqiao (Jembatan Kembar). Saat ini hujan baru perlahan mengecil, jalan aspal tergenang air, berkelok-kelok seperti pita kaca. Terlihat air sungai keruh bergelombang deras, merendam tiang jembatan jauh lebih tinggi dari biasanya. Dan langit yang hitam pekat akhirnya ada sudut yang membiru, perlahan memudar jadi hijau cangkang kepiting, langit mulai terang. Lewat jembatan, dari jauh terlihat di depan Kediaman Shuangqiao, terparkir belasan mobil.
Biasanya mereka langsung masuk, tapi Lei Shaogong bertindak hati-hati. Melihat situasi ini, dia hanya menatap Murong Qingyi sekilas. Murong Qingyi berkata, "Berhenti." Menyuruh mobil berhenti di luar. Ajudan kediaman resmi memayungi keluar menyambut. Saat ini langit makin terang, menyusuri lorong panjang berjalan, terlihat bunga dan pohon di kedua sisi, semua dipukuli hujan deras hingga berantakan. Bunga krisan yang sedang mekar bagus, gumpalan bunganya basah air, berat hampir merunduk sampai ke lumpur. Rumah Kediaman Shuangqiao adalah rumah tua, halaman yang sunyi dan dalam. Sepatu kulit menginjak lempeng batu hijau di lorong berbunyi tak-tak, belok ke kanan, sampailah di ruang tamu timur.
Back to the catalog: OVERDO
