Sabtu pagi, Jiang Mu secara tak terduga bangun sebelum alarm berbunyi. Bahkan San Lai sedikit terkejut dengan tingkah lakunya yang tidak biasa dan penuh semangat ini. Tetapi Jiang Mu tampak segar bugar, dengan ekspresi seolah siap keluar untuk menaklukkan dunia.
Bahkan setelah sampai di sekolah, dia jarang sekali mengubah sikap ‘Buddhis’-nya yang biasa, menjadi jauh lebih aktif. Kondisi ini bertahan hingga dia pulang sore hari.
Saat melihat Jin Qiang duduk di depan bengkel, Jiang Mu seketika layu.
Jin Qiang tahu bahwa Jiang Mu biasanya pulang belajar malam sudah larut, khawatir mengganggu belajarnya, jadi dia sengaja menunggu sampai hari Sabtu baru datang menemuinya.
Setelah melihat Jiang Mu, Jin Qiang berdiri dengan senyum di wajahnya dan berkata: “Sudah pulang? Letakkan barang-barangmu, kita makan dulu.”
Setelah berkata demikian, dia menoleh dan memanggil: “Chao, coba lihat di sekitar sini ada restoran apa, cari tempat.”
Jin Chao menyerahkan alat pendeteksi pada Xiao Yang, berpesan dua kalimat, lalu membawa mereka ke sebuah restoran kecil yang bisnisnya lumayan bagus. Pemiliknya kenal baik dengan Jin Chao. Meskipun sedang jam makan dan pelanggan cukup banyak, mereka tetap diberi tempat di sudut dekat jendela yang tenang.
Jiang Mu dan Jin Qiang duduk berhadapan. Jin Chao mengambil kursi sendiri dan duduk di sisi lain meja. Pelayan memberikan menu pada Jin Qiang. Jin Qiang mendorongnya ke depan Jiang Mu dan berkata: “Lihatlah kamu suka makan apa, pesan yang banyak ya.”
Jiang Mu menunduk menatap menu di depannya, tidak mengambilnya. Anehnya, orang di depannya adalah ayahnya, tetapi dia tidak bisa bersikap santai dan wajar seperti di depan kerabat dekat.
Jin Chao melihatnya tidak bergerak, lalu mengambil menu dan memesan beberapa hidangan.
Jiang Mu terus menunduk. Jin Qiang dengan sedikit canggung melirik Jin Chao, sepertinya tidak tahu bagaimana harus memulai pembicaraan. Ekspresi Jin Chao datar, dia mengambil cangkir teh dan menuangkan teh untuk mereka masing-masing.
Malam di Tonggang semakin panjang. Setelah matahari terbenam, udara membawa hawa dingin. Jiang Mu memegang cangkir tehnya untuk menghangatkan tangan, lalu mendengar Jin Qiang berkata pelan: “Ibumu selama bertahun-tahun ini pasti sering menjelek-jelekkanku di depanmu kan?”
Jiang Mu tidak bersuara, sepertinya jawaban apa pun kurang tepat. Setiap kali Jiang Yinghan menyebut Jin Qiang, memang selalu dengan nada sinis dan mengejek, tetapi lebih sering lagi, Jiang Yinghan sama sekali tidak akan menyebut namanya.
Jin Qiang menghela napas dan melanjutkan: “Kamu membenciku, menyalahkanku, itu tidak masalah. Selama bertahun-tahun ini aku memang tidak banyak memenuhi tanggung jawabku padamu. Tahun saat kami pergi, kamu masih kecil, banyak hal yang tidak kamu tahu.”
Jiang Mu tidak bisa membantah. Satu-satunya kenangannya adalah orang tuanya sering bertengkar. Tetapi saat tidak bertengkar, suasana di rumah justru lebih menyesakkan. Terutama setelah masuk SD, dia menjadi sensitif terhadap hubungan orang tuanya.
Kadang-kadang saat Jiang Yinghan dan Jin Qiang berselisih, mereka sengaja menutup pintu kamar. Tapi itu tidak bisa menyembunyikan gejolak besar di rumah. Dia akan duduk ketakutan di bangku kecil di ruang tamu sambil diam-diam menangis. Seringkali Jin Chao yang menariknya masuk ke kamar, memberinya sepasang headphone dan menyuruhnya mendengarkan musik. Waktu itu dia mana mengerti kenapa, baru sekarang setelah teringat kembali dia tahu bahwa Jin Chao tidak ingin dia mendengar pertengkaran, tuduhan, dan makian itu.
Untuk waktu yang sangat lama, Jiang Mu merasa, di dunia ini mungkin hanya Jin Chao yang senasib sepenanggungan dengannya, yang mengerti perasaannya; perasaan bimbang, bingung, dan takut terhadap hubungan orang tuanya. Jiang Mu tanpa sadar menoleh pada Jin Chao. Jin Chao menangkap tatapannya dan mengangkat pandangannya, matanya memancarkan kehangatan yang familiar. Mungkin justru kehangatan di mata Jin Chao itulah yang membuat Jiang Mu saat mengingat kembali masa itu, tidak melulu merasa sedih dan sakit hati.
Pelayan menyajikan sepiring shuizhu yu, memecah keheningan. Jin Qiang berkata: “Ayo, makan dulu, sudah lapar kan?”
Jiang Mu menunduk, makan dalam diam. Jin Chao mengambil mangkuk di depannya dan mengambilkan semangkuk nasi putih untuknya. Makan malam itu dilalui dengan pikiran masing-masing, tetapi setidaknya di permukaan terlihat cukup tenang.
Di meja ada semangkuk bawang putih. Setelah meletakkan sumpit, Jin Qiang mengambil beberapa siung, mengupasnya, dan memasukkannya ke mulut. Dia mengambil dua siung lagi untuk Jin Chao. Jiang Mu mengangkat matanya, diam-diam memperhatikan. Di rumahnya bersama Jiang Yinghan, tidak pernah ada kebiasaan makan bawang putih mentah.
Setelah Jin Chao menerima bawang putih itu, sudut matanya melirik Jiang Mu, lalu dia tidak mengupasnya.
Jin Qiang menunduk sambil mengupas bawang putih, lalu berkata: “Aku tahu masalah Xinxin membuatmu punya pandangan tertentu terhadap Bibi Zhao. Orangnya memang seperti itu, mulutnya selalu lebih cepat dari otaknya, bicara apa saja tidak dipikir dulu. Jangan bilang kamu, aku dan Jin Chao juga sering diomelinya, iya kan?”
Jin Qiang berkata sambil melihat Jin Chao, seolah memintanya mengatakan beberapa kata untuk mencairkan suasana. Tetapi Jin Chao hanya menunduk, memainkan dua siung bawang putih di telapak tangannya, tidak bersuara.
Jiang Mu dengan datar bertanya balik: “Lalu kenapa Ayah tetap memilihnya?”
Satu kalimat itu membuat suasana di meja makan membeku. Tangan Jin Chao yang sedang memutar bawang putih terhenti. Jin Qiang juga menatap Jiang Mu dengan sedikit tidak menyangka.
Sebelum Jin Qiang menikah lagi, Jiang Mu selalu dengan naif berpikir bahwa orang tuanya masih bertengkar, hanya saja kali ini pertengkarannya lebih hebat. Tapi suatu hari nanti ayahnya akan kembali bersama Jin Chao, mereka akan hidup bersama lagi sebagai satu keluarga. Sampai akhirnya berita pernikahan Jin Qiang menghancurkan semua harapannya.
Dia hanya menatap Jin Qiang seperti itu. Ini adalah pertama kalinya setelah dewasa dia mengajukan pertanyaan setajam ini pada ayahnya. Kenapa meninggalkannya? Kenapa membangun keluarga dengan orang lain? Kenapa tidak menginginkannya lagi?
Jin Qiang menunduk, kerutan di dahinya terlihat jelas di bawah cahaya lampu pijar, membuatnya tampak jauh lebih tua.
Jin Chao meletakkan bawang putihnya dan berkata: “Aku keluar merokok sebentar.”
Dia membuka pintu restoran, hanya menyisakan ayah dan anak itu. Jin Qiang dengan terpatah-patah menceritakan banyak hal pada Jiang Mu. Dia memberitahu Jiang Mu, hari saat Jiang Mu lahir, Suzhou dilanda hujan deras. Dia mengendarai motor listrik membawa termos makanan menuju rumah sakit. Jalannya terlalu licin hingga dia terjatuh. Bubur di dalam termos tumpah semua, dia juga jatuh dengan mengenaskan. Sampai di rumah sakit, dia hanya bisa melepas jaketnya yang kotor. Tetapi saat menggendong Jiang Mu dalam pelukannya, lukanya tidak terasa sakit lagi, tubuhnya juga tidak dingin lagi.
Dia berkata, hari pertama Jiang Mu masuk TK, rambutnya dikuncir dua tinggi-tinggi. Mereka semua mengira Jiang Mu akan menangis mencari ibunya, bahkan khawatir semalaman. Tetapi begitu sampai di TK, Jiang Mu langsung bermain dengan anak perempuan lain, bahkan berinisiatif berkata padanya “Ayah, dah”.
Dia berkata, waktu kecil Jiang Mu suka warna merah muda. Hari Anak tanggal 1 Juni, dia membawanya ke toko untuk membeli. Tidak menemukan yang warna merah muda, Jiang Mu menunjuk gaun putri warna kuning. Pemilik toko mengambilkan yang warna biru, Jiang Mu juga suka. Dua-duanya dibeli. Kemudian akhirnya menemukan gaun warna merah muda, tetapi saat perjalanan pulang, kedua gaun yang pertama malah hilang. Itu adalah uang simpanan pribadinya selama sebulan penuh.
Dia berkata, tahun saat Jiang Mu TK B, Jiang Mu pernah kena pneumonia. Setiap sore dia menyelinap dari kantor, menggendongnya melewati sebuah tanjakan besar untuk diinfus. Di jalan ada seorang kakek tua menjual gulali, Jiang Mu selalu mau makan satu. Pernah saat menggendongnya, Jiang Mu malah menempelkan semua gulali di rambutnya, ketahuan ibunya saat pulang.
Dia berkata, pernah suatu kali saat Cap Go Meh, mereka pergi melihat lampion. Melihat anak-anak lain memegang berbagai macam lampion, dia juga ingin membelikan untuk mereka.
Jiang Yinghan merasa itu buang-buang uang, paling banyak beli satu untuk mainan saja sudah cukup. Tetapi dia merasa, ada dua anak, kalau yang satu punya, yang lain tidak boleh tidak punya.
Berbicara sampai di sini, Jin Qiang tiba-tiba berhenti. Jiang Mu kembali menatap Jin Qiang. Sepertinya sejak datang ke Tonggang kali ini, Jiang Mu belum benar-benar memperhatikan ayahnya. Entah karena cahaya lampu restoran atau bukan, dia tiba-tiba sadar ayahnya sudah punya cukup banyak uban, sepertinya sudah bukan lagi sosok dalam ingatannya.
Sebenarnya ingatannya tentang ayahnya tidak banyak. Saat kecil, dia hanya ingat ayahnya sangat sibuk, hampir setiap hari lembur. Uang hasil kerja kerasnya diserahkan pada ibunya. Meskipun begitu, mereka tetap sering bertengkar karena uang.
Sebagian besar hal-hal sepele yang diceritakannya tidak dia ingat, tetapi dia masih ingat kejadian lampion itu. Waktu itu orang tuanya bertengkar karena membeli lampion. Kemudian ayahnya satu tangan menggendongnya, satu tangan menggandeng Jin Chao, membeli dua lampion, satu kelinci putih, satu perahu naga. Saat membayar, dia ingat Jin Qiang mengumpulkan banyak uang receh dengan susah payah.
Perlahan dia menundukkan pandangannya, mendengar Jin Qiang bertanya: “Apa ibumu pernah bercerita padamu tentang Jin Chao?”
Jiang Mu mengangguk. Kening Jin Qiang perlahan mengerut, suaranya menunjukkan sedikit kepasrahan: “Setelah ibumu melahirkan, kondisi tubuhnya tidak baik. Aku harus bekerja, memasak, dan juga merawat kalian berdua. Jin Chao waktu itu baru anak usia lima atau enam tahun. Malam hari kamu menangis, dia juga bangun, mengambil bangku, memegang botol air membantu membuatkan susu bubuk. Bahkan tangannya melepuh karena air panas pun tidak berani memberitahu kami."
"Ibumu selalu bilang dia ‘tidak bisa dilembutkan’. Dia dan ibumu memang tidak pernah dekat, tidak pernah tanpa sebab mendekatinya. Beberapa tahun pertama baru datang ke rumah, dia bahkan tidak mau memanggil ‘ibu’ sekalipun, juga tidak pernah menceritakan kejadian di sekolah padanya. Hanya saja setelah kamu lahir, dia terus berusaha baik padamu. Kenapa? Karena di mata ibumu hanya ada kamu. Anak bodoh itu mengira dengan begitu ibumu akan menerimanya."
"Waktu kamu baru masuk SD, di bawah karena nakal kamu memanjat ke pangkuan Xiao Chao bermain, lalu berguling bersamanya di halaman rumput. Ibumu melihatnya, menyuruhku membawamu naik ke atas, lalu memarahi Xiao Chao tidak tahu sopan santun."
"Sopan santun? Dia waktu itu juga hanya seorang anak kecil!”
Mendengar ini, Jiang Mu merasa ada batu yang menyumbat tenggorokannya, tidak bisa naik tidak bisa turun. Dia mengangkat pandangannya melihat Jin Chao di luar jendela kaca. Angin malam mulai berhembus di jalanan. Beberapa ranting kering dan daun busuk terbawa angin melewati kaki Jin Chao. Dia berdiri di pinggir jalan tidak jauh dari sana, sebatang rokok menyala di tangannya. Kabut tipis malam membuat sosoknya terlihat sedikit samar.
Jin Qiang meremas bawang putih di tangannya, ekspresinya muram: “Kamu bertanya kenapa aku memilih Bibi Zhao, aku tidak bisa menjawabnya. Tapi hidup bersamanya, aku tidak akan diremehkan hanya karena makan sebiji bawang putih, tidak akan merasa bersalah hanya karena sudah mencuci piring tapi lupa mencuci wajan, tidak perlu ingat sandal diletakkan di rak sepatu, sepatu kets di lemari sepatu, sepatu kulit di balkon."
"Meskipun Xiao Zhao tidak bisa dibilang menganggap Jin Chao seperti anak sendiri, tapi dia tidak akan mengabaikannya. Hari ini sebelum keluar rumah dia bahkan berkata padaku, cuaca akan dingin, kalau kamu tidak mau ikut pulang denganku, lihatlah apa pakaianmu cukup…”
…
“Ayahmu tidak pernah memberiku sebuket bunga pun, mana mungkin ingat hari perayaan apa. Pakaian yang dilepasnya hanya tahu diletakkan sembarangan. Lantai depan baru saja dipel juga tidak diperhatikan. Setiap kali hujan masih memakai sepatu masuk ke dalam hingga keset penuh lumpur. Sudah dibilang seribu kali tumis kentang jangan pakai jahe, sup sayur jangan pakai bawang putih, benar-benar seperti bicara dengan tembok…”
Jiang Mu masih bisa mengingat sepatah dua kata ibunya tentang ayahnya dulu. Jiang Yinghan adalah wanita yang teliti. Rambutnya selalu disanggul dengan rapi. Setiap minggu di rumah akan diganti bunga segar. Alas meja berwarna biru muda yang segar. Semua barang punya tempatnya masing-masing. Di matanya, Jin Qiang adalah seorang perusak, dia selalu melawannya.
Ini adalah pertama kalinya Jiang Mu melihat hubungan orang tuanya dari sudut pandang lain. Apa mereka salah? Sepertinya tidak ada yang salah, tapi beginilah akhirnya…
Jin Chao sudah membayar tagihan lebih dulu. Saat mereka keluar dari restoran, dia membuang puntung rokoknya. Jin Qiang akhirnya berkata pada Jiang Mu: “Kamu tinggal di sana sebenarnya tidak pantas.”
Dia berhenti bicara sebelum Jin Chao menghampiri, lalu berpesan pada Jin Chao: “Kalau begitu aku pergi dulu. Bawa adikmu pulang lebih awal.”
Dua kata ‘adikmu’ yang sengaja ditekankan Jin Qiang sepertinya tanpa sadar mengingatkan akan sesuatu. Hanya saja Jiang Mu tidak memperhatikannya, sedangkan Jin Chao menunduk dan mengangguk.
Dalam perjalanan pulang, jalanan sudah sangat sepi. Mereka berjalan menyusuri jalan menuju bengkel. Jin Chao menjaga jarak selangkah darinya dan bertanya: “Jin Qiang menyuruhmu pulang?”
Jiang Mu menjawab “Hmm”.
“Sudah memutuskan?”
Jiang Mu menginjak daun-daun kering di bawah kakinya, menimbulkan suara gemerisik, lalu menjawab: “Belum, aku bilang padanya akan kupikirkan lagi.”
Daun kering di bawah kakinya sudah habis. Dia melompat ke atas trotoar, tiba-tiba bertanya: “Kamu bilang Jin Xin mengalami hal buruk di sekolah, apa itu?”
Malam semakin pekat, bayangan lampu kabur. Sesaat kemudian, barulah Jin Chao menjawab: “Yang paling parah, pernah dimasukkan ke dalam tong sampah oleh beberapa anak laki-laki kelas empat, tidak bisa memanjat keluar hingga hampir mati lemas.”
Meskipun Jin Chao hanya menyebutkannya sambil lalu, itu membawa keterkejutan yang tidak kecil bagi Jiang Mu. Dia tidak pernah menyangka Jin Xin yang baru berusia 8 tahun ternyata mengalami perundungan di sekolah. Dia tiba-tiba sadar kenapa waktu itu Jin Xin berbohong, kenapa setelah dia mengetahuinya Jin Xin dengan panik membanting mesin belajarnya, kenapa saat mendengar nama ibunya Jin Xin jadi lepas kendali. Karena dia takut sekolah, takut ketahuan bisa mengerjakan soal-soal itu lalu disuruh sekolah. Sebelumnya, Jiang Mu tidak pernah berpikir bahwa tingkah laku gadis ini yang tidak biasa, perlawanan, ketidakkooperatifan, dan keanehannya adalah caranya menghindari dunia luar.
Alisnya perlahan mengerut, dia bertanya: “Kapan kamu mengetahuinya?”
“Tiga bulan lalu.”
“Apa Bibi Zhao tahu?”
“Tahu kalau Jin Xin tidak mau sekolah, tapi tidak tahu kalau dia sengaja membuat guru curiga ada masalah dengan kecerdasannya.”
“Lalu kamu tidak memberitahu mereka?”
Jin Chao menjawab: “Kemampuan belajar Xinxin tidak ada masalah. Masalahnya ada pada ketakutannya terhadap kehidupan sosialnya. Kalau memberitahu mereka, mereka akan memaksanya beradaptasi. Menurutku itu bukan cara terbaik menyelesaikan masalah. Tingkah lakunya hari itu kamu juga sudah lihat. Aku akan berusaha meyakinkan Jin Qiang membawa Xinxin ke psikolog, tetapi mereka selalu merasa ini sama saja dengan mengakui Xinxin sakit jiwa, jadi mereka cukup menolak hal ini.”
Jiang Mu memperhatikan, saat Jin Chao membicarakan Jin Qiang, dia selalu menyebut namanya, kali ini datang dia tidak mendengar Jin Chao memanggil “Ayah” sekalipun.
Entah apakah dia terlalu banyak berpikir, dia mencoba bertanya: “Apa kamu hidup baik bersama mereka?”
Jin Chao hanya tersenyum tipis: “Apa yang disebut baik? Apa yang disebut tidak baik?”
“Bagaimana perasaanmu tinggal bersama mereka?”
Jin Chao melihatnya berjalan terhuyung-huyung di atas tepi jalan, khawatir dia salah langkah, jadi dia berjalan setengah langkah di belakangnya sambil terus mengawasinya: “Maksudmu dalam hal apa?”
“Apa merasa sulit beradaptasi? Atau… setelah Jin Xin lahir? Apa merasa tidak cocok?”
Jin Chao memasukkan kedua tangannya ke saku celana, ekspresinya datar: “Lumayan.”
Jiang Mu tiba-tiba berhenti, berdiri di atas tepi jalan menatapnya: “Lumayan itu maksudnya apa? Tidak merasa canggung?”
Jin Chao juga ikut berhenti. Meskipun Jiang Mu berdiri lebih tinggi, dia tetap lebih pendek dari Jin Chao. Dia menatap Jin Chao, berharap menemukan sedikit kesamaan perasaan, tetapi hanya mendengar Jin Chao berkata: “Sudah terbiasa.”
Tiga kata itu membuat ekspresi Jiang Mu terpaku. Ditemani angin malam yang dingin, Jiang Mu tanpa sadar menggigil. Dia tiba-tiba lupa, jika perasaan seperti ini baru dialaminya sekali saja sudah tidak tahan, Jin Chao justru mengalaminya dua kali.
Pertama kali adalah saat Jiang Mu lahir ke dunia ini, merebut seluruh kasih sayang Jiang Yinghan dan perhatian awal Jin Qiang padanya. Dan yang kedua adalah saat dia ikut Jin Qiang datang ke rumah ini dan kembali mengalaminya sekali lagi.
Satu kalimat sederhana “Sudah terbiasa” terdengar di telinga Jiang Mu seperti batu besar yang jatuh ke danau, menimbulkan suara dentuman berat yang bergema membentuk riak-riak yang tak kunjung tenang.
Dia menginjak-injak daun kering di bawah kakinya sekuat tenaga, melampiaskan suatu emosi yang tidak menyenangkan. Jin Chao berkata padanya: “Sudah besar begini? Turun.”
Tetapi Jiang Mu tidak mendengarkannya, berjalan di sepanjang tepi jalan seperti sedang berjalan di atas balok keseimbangan, sampai tepi jalan itu terputus. Dia terpaksa berhenti. Jin Chao pikir Jiang Mu akan turun dan berjalan dengan benar, tetapi malah mendengarnya berkata: “Aku mau melompatinya.”
Jin Chao melihat jarak tepi jalan di depan, mengingatkannya: “Kamu tidak akan bisa melompatinya.”
Jiang Mu meliriknya sinis: “Kamu bilang kakiku pendek?”
Sudut bibir Jin Chao tersenyum: “Itu tergantung dibandingkan dengan siapa.”
“Pokoknya bukan denganmu.”
Dia tidak mau jalan, Jin Chao juga hanya bisa berhenti memperhatikannya. Jiang Mu mengulurkan tangannya pada Jin Chao, berkata: “Bantu aku melompatinya. Di bawah ini sungai, aku tidak boleh jatuh.”
Mata Jin Chao sedikit bergerak. Permainan kekanak-kanakan ini ternyata masih dimainkannya dari usia 8 hingga 18 tahun. Jin Chao tidak menghiraukannya, langsung berjalan ke depan dan berkata: “Di bawah buaya menunggumu, cepatlah jatuh.”
“Chao Chao…”
Cahaya bulan remang-remang, bayangan malam kabur. Dia menghentikan langkahnya, cahaya di matanya yang dalam seperti telaga seketika beriak. Dia berbalik menatapnya: “Kamu sedang bermanja padaku?”
Jiang Mu terus tertawa. Jin Chao menunjuknya, memperingatkan: “Kamu bukan 8 tahun, cara ini sudah tidak mempan lagi.”
Jiang Mu mengangkat kedua tangannya mengulurkannya pada Jin Chao, mengangkat dagunya menandakan dia harus melompat, dengan ekspresi pasti berhasil berkata: “Kamu tidak akan membiarkanku jadi makanan buaya kan?”
Setelah berkata demikian, dia benar-benar tanpa ragu melompat. Saat tubuhnya melayang di udara, Jiang Mu memejamkan mata. Dia butuh sebuah pertaruhan untuk membuat sebuah keputusan, keputusan yang sangat penting baginya.
Tepat saat tubuhnya akan jatuh, sepasang tangan menahannya. Tepi jalan di seberang terlalu sempit, meskipun dia benar-benar bisa melompatinya, belum tentu bisa berdiri dengan stabil. Jin Chao hampir harus menstabilkannya di atas tepi jalan itu baru melepaskan tangannya.
Saat Jiang Mu membuka matanya lagi, ada binar di matanya. Dia menatap Jin Chao dan berkata: “Aku sudah memutuskan.”
Jin Chao tertawa kecil: “Memutuskan jadi makanan buaya?”
“Kira-kira begitulah. Aku sudah memutuskan mau ambil jurusan apa nanti.”
Alis Jin Chao sedikit terangkat: “Baru saja diputuskan?”
Mata Jiang Mu mengandung kegembiraan yang cemerlang, dia mengangguk pada Jin Chao.
“…Kalau begitu benar-benar cukup sembarangan ya. Turun.”
Setelah berkata demikian, Jin Chao berbalik dan berjalan ke depan. Jiang Mu melompat turun dari tepi jalan, mengikuti bayangannya dengan kedua tangan di belakang punggung, bertanya: “Dulu waktu kau ikut olimpiade fisika, susah tidak?”
“Tidak mudah.”
“Lalu bagaimana caramu belajar fisika?”
“Materi SMA cukup mudah dimengerti. Belajar sendiri fisika tingkat universitas, yang tidak mengerti tanya orang atau riset sendiri cari bahan.”
“Menurutmu aku begini bisa belajar dengan baik tidak?”
Jin Chao tiba-tiba berhenti dan berbalik menatapnya: “Kamu mau ikut olimpiade?”
Jiang Mu buru-buru melambaikan tangan: “Bukan, bukan, aku tahu batasku. Aku hanya merasa fisika dan kimiaku masih perlu diperkuat. Kalau nanti mau berkembang ke arah jurusan itu, aku harus lebih mahir.”
Mata Jin Chao menunjukkan sedikit senyum, menilai: “Susah. Kamu bahkan belum mahir menggunakan rumus yang ada dan mengkombinasikan angka dengan bentuk.”
“Kalau begitu kamu bisa mengajariku kan.”
Jin Chao berdiri di tempat, ujung matanya yang tajam sedikit melengkung, tidak mengiyakan, juga tidak menolak.
Previous Page: Star Trails (Chapter 22)
Back to the catalog: Star Trails